OMED Paparkan Prospek 2026
Pengurus OMED kala menjelaskan kinerja perseroan. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Jayamas Medica Industri (OMED), memaparkan prospek usaha tahun 2026 didukung permintaan struktural sektor kesehatan nasional, dan ketahanan permintaan dari segmen kesehatan swasta. Apalagi, sektor kesehatan Indonesia terus memperoleh dukungan kuat dari pemerintah.
Itu tercermin dari peningkatan anggaran kesehatan nasional sebesar 16 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp244 triliun pada 2026 dari edisi 2025 di level Rp211 triliun. Kebijakan pemerintah tetap fokus pada peningkatan aksesibilitas, keterjangkauan, keberlanjutan sistem kesehatan jangka panjang, penguatan kapabilitas industri kesehatan, dan farmasi dalam negeri.
Meski program Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS Kesehatan) tetap berperan penting dalam memperluas akses layanan kesehatan, tekanan pendanaan masih berlanjut seiring rasio klaim melampaui penerimaan iuran. Nah, dalam konteks itu, segmen layanan kesehatan swasta diperkirakan tetap resilien.
Itu karena didorong permintaan layanan kesehatan dengan kompleksitas lebih tinggi, layanan non-BPJS, produk consumable medis, dan pengembangan infrastruktur kesehatan. Dengan latar itu, sepanjang 2026 OMED mematok pendapatan Rp2,3 triliun, atau tumbuh 10–15 persen secara tahunan (YoY).
“Perseroan juga menargetkan margin laba kotor tetap terjaga pada kisaran awal 30 persen, dan penjualan ekspor sebesar USD1,0–1,5 juta,” tegas Louis Hartanto, Direktur Marketing dan Sales PT Jayamas Medica Industri Tbk.
Nah, untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang dan kesiapan operasional, perseroan mengalokasikan belanja modal alias capital expenditure sekitar Rp62 miliar pada 2026. Belanja modal itu, akan fokus pada penambahan mesin untuk memperluas kapasitas produksi di fasilitas Mojoagung dan Krian.
Selain itu, belanja modal juga untuk pengembangan National Distribution Center (NDC) di Pulo Gadung, Jakarta. Pengembangan itu, diharap dapat meningkatkan efisiensi logistik, dan kualitas layanan, khususnya wilayah Jabodetabek, dan Jawa Barat. Tidak disangkal, pergerakan pasar saham dalam jangka pendek dapat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, dan dinamika indeks global.
Namun, perseroan tetap berfokus pada eksekusi strategi, penguatan kapasitas, dan penciptaan nilai berkelanjutan. Itu sangat penting dalam menghadapi volatilitas pasar, dan mendukung pertumbuhan jangka panjang perseroan. (*)
Related News
MEJA Kebut Produksi Batu Bara 1,5 Juta Ton
Respons Ramalan Samuel Sekuritas, Begini Reaksi RLCO
Lepas Jutaan Saham BRRC, Granada Global Dulang Rp3,83 Miliar
Bertahap! Free Float Sejumlah Bank Ini di Bawah 15 Persen
Profit Taking, Investor Ini Buang Saham YULE Rp140,19 Miliar
Hari Ini! RISE Salurkan Saham Bonus Rp525,36 Miliar





