EmitenNews.com - Singapura mulai menyesalkan langkah yang dilakukan oleh Indonesia. Suara protes tersebut muncul dari Partai Pekerja (Workers’ Party/WP) yang merupakan salah satu partai opisisi di Singapura.

Partai ini menyesalkan keputusan pemerintah Indonesia untuk memangkas ekspor gas alam ke negaranya. Apalagi bila alasan pengurangan ekspor gas alam tersebut didorong oleh perkembangan lain yang tidak berkaitan dengan bisnis gas.

Partai Pekerja menekankan petingnya Indonesia menghormati kontrak komersial internasional. Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di Facebook pada 25 Oktober, partai oposisi tersebut mendukung seruan Perdana Menteri Lawrence Wong yang disampaikan sebelumnya pada hari yang sama, agar kontrak pasokan gas komersial tetap dihormati.

“WP sepakat bahwa kesucian kontrak komersial internasional, khususnya yang mencakup utilitas utama kita, merupakan masalah yang sangat penting bagi negara,” ungkap partai tersebut sebagaimana dikutip Straitstimes, Senin (26/10/2026).

Meskipun tingkat pengurangan ekspor gas oleh Indonesia saat ini masih dalam batas yang dapat ditoleransi, kata Partai Pekerja, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya mendiversifikasi rantai pasok energi Singapura, terutama di tengah lingkungan internasional yang semakin sulit diprediksi.

Pernyataan WP ini muncul di tengah ketegangan terkait kabut asap lintas batas yang berdampak pada Singapura dan kawasan sekitarnya.

Partai tersebut mencatat bahwa komentar dari sejumlah pejabat maupun mantan pejabat Indonesia mengenai kabut asap, di beberapa kalangan, telah dikaitkan dengan tuduhan adanya konspirasi oleh lembaga dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) Singapura untuk memengaruhi posisi Indonesia di pasar keuangan, serta dikaitkan pula dengan keputusan terbaru Indonesia untuk membatasi ekspor gas.

Pada 24 Oktober, Indonesia mengumumkan akan mengurangi ekspor gas alam ke Singapura sebesar 31 miliar British thermal unit per hari (BBTUD), sebagai bagian dari upaya untuk memprioritaskan kebutuhan energi dalam negeri. Pengurangan ini mencakup pasokan gas yang disalurkan melalui pipa dari Natuna dan Sumatra.