EmitenNews.com - Ditopang oleh harga minyak kelapa sawit (CPO) yang positif dan kondisi kebun yang membaik, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) optimistis kinerja tahun ini bakal meningkat.


Adapun, tahun ini SGRO menargetkan pertumbuhan produksi tandan buah segar (TBS) dan minyak kelapa sawit (CPO) sebesar 6%-12% dibandingkan dengan pencapaian pada tahun lalu. Apalagi, manajemen menilai harga jual CPO selama periode awal tahun ini juga terpantau masih berada pada level yang positif.


Meskipun begitu, SGRO belum bisa bicara lebih detail terkait proyeksi pendapatan dan laba di tahun 2022, lantaran hal ini akan sangat bergantung pada mekanisme pasar serta fluktuasi harga jual CPO.


Merujuk keterangan resmi yang direlease beberapa waktu lalu, Head of Investor Relation SGRO, Stefanus Darmagiri, menyebut untuk mengoptimalkan kinerja di tahun ini, SGRO memiliki beberapa rencana bisnis. Di antaranya, akan melanjutkan program intensifikasi kebun yang telah dijalankan selama beberapa tahun guna meningkatkan produktifitas ke depannya.


"Lalu digitalisasi untuk dapat meningkatkan monitoring, efektifitas produksi dan efisiensi kerja di kebun," jelas Stefanus.


Dia menambahkan, SGRO juga akan terus berupaya memperkuat profil keuangan yang dapat meningkatkan posisi neraca keuangan perusahaan ke depannya. Sebagai contoh, pada tahun 2020 dan 2021, SGRO telah menerbitkan obligasi dan sukuk berkelanjutan dengan total emisi Rp 1,2 triliun sebagai bagian strategi keuangan untuk debt reprofiling .


Tak hanya itu, Stefanus juga menyebut beberapa waktu lalu SGRO baru saja mendapatkan kenaikan peringkat rating untuk obligasi dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I dan II Sampoerna Agro dari Pefindo menjadi idA. Sementara untuk ekspansi pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) baru, Stefanus menjelaskan masih dalam proses kajian.


Adapun, di tahun ini SGRO menganggarkan alokasi belanja modal atau capital expenditure (Capex) sekitar Rp Rp 400 miliar - Rp 600 miliar. Rencananya, 50% dari dana capex tersebut akan digunakan untuk pengembangan perkebunan, sementara sisanya sebagai modal untuk pemeliharaan aset tetap, seperti bangunan, infrastruktur, dan mesin. Dana akan berasal dari kas internal.


Sebagai informasi, SGRO berhasil membukukan kinerja yang positif setidaknya selama sembilan bulan pertama 2021. Dari sisi top line, pendapatan SGRO tercatat mencapai Rp 3,90 triliun, naik 72,01% dari pendapatan per kuartal ketiga 2020 sebesar Rp 2,25 triliun.


Sedangkan untuk bottom line, perusahaan ini berhasil meraup laba bersih senilai Rp 509,66 miliar. Melesat dari periode yang sama tahun 2020 yang hanya mencapai Rp 17,77 miliar.