Selain itu, lanjut dia, OILS juga sudah berhasil menembus pasar di Afrika, yakni Madagaskar, serta sedang berupaya membuka market baru di 2023, yakni China dan Rusia. "Tidak lupa juga kami ada beberapa enquire dari Arab Saudi dan sedang kami develop untuk pasar minyak goreng kelapa," tutur Johan.

 

Per 31 Desember 2022, jumlah liabilitas OILS tercatat sebesar Rp75,19 miliar atau mengalami kenaikan 37,68 persen dari posisi per 31 Desember 2021 yang sebesar Rp54,61 miliar. Peningkatan jumlah kewajiban ini terutama dipengaruhi oleh kenaikan liabilitas jangka pendek akibat penambahan utang yang bersifat produktif terkait dengan pembelian bahan baku.

 

Hingga akhir Desember 2022, ekuitas Perseroan mencapai Rp82,79 miliar atau bertumbuh 7,44 persen dibanding per akhir Desember 2021 yang sebesar Rp77,06 miliar. Dengan demikian, total aset OILS per 31 Desember 2022 menjadi Rp157,98 miliar atau menanjak 19,98 persen dibanding per 31 Desember 2021. Per 31 Desember 2023, total aset perseroan diyakini bisa mencapai Rp169,04 miliar.

 

Sementara itu, selama kurun tiga bulan pertama di 2023, OILS mampu mencatatkan penjualan mencapai Rp133,7 miliar atau meningkat 13,92 persen dibanding periode yang sama di 2022 sebesar Rp117,36 miliar.

 

Adapun laba bersih tahun berjalan yang bisa diraih Perseroan pada Kuartal I-2023 sebesar Rp2,19 miliar atau lebih rendah dibanding Kuartal I-2022 yang sebesar Rp3,65 miliar. Namun demikian, perseroan meyakini bahwa pada tahun ini bisa meraup laba bersih sekitar Rp8 miliar hingga Rp12 miliar.

 

Per 31 Maret 2023, ekuitas OILS mencapai Rp95,83 miliar atau melonjak 15,75 persen dibanding per 31 Desember 2022 yang sebesar Rp82,79 miliar. Adapun jumlah liabilitas hingga akhir Kuartal I-2023 sebesar Rp96,67 miliar atau mengalami kenaikan dibanding per akhir Desember 2022 yang senilai Rp75,19 miliar. Sehingga, total aset per 31 Maret 2023 menjadi Rp192,5 miliar atau meningkat 21,85 persen dibanding per 31 Desember 2022.

 

Sebagai produsen minyak kelapa mentah atau crude coconut oil (CNO) maupun produk turunan CNO, OILS memandang bahwa prospek bisnis di industri ini masih terbuka sangat lebar. Terlebih lagi, CNO memiliki potensi sebagai produk alternatif pengganti crude palm oil (CPO) yang saat ini terkendala oleh ketersediaan lahan.

 

Pada 2020, tingkat pertumbuhan produksi CPO terbilang masih cukup rendah, sehingga sejauh ini terjadi tren pertumbuhan permintaan CNO sebagai salah satu produk substitusi. Prospek bisnis OILS juga ditopang oleh adanya potensi pengembangan lahan di Indonesia, peluang pertumbuhan sektor agribisnis dan tingkat konsumsi minyak nabati yang secara berkelanjutan mengalami pertumbuhan.