Pendapatan Lampaui Tahun Sebelumnya, Laba KIJA Naik Dua Digit di 2025
Kawasan pemukiman di Jababeka Residence, Cikarang, Jawa Barat
EmitenNews.com - Emiten pengembang kawasan industri dan properti PT Jababeka Tbk (KIJA) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp423,19 miliar pada tahun buku 2025, meningkat 16,48% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba tersebut mencerminkan penguatan kinerja operasional Perseroan di tengah kenaikan pendapatan yang relatif solid.
Sepanjang 2025, KIJA mencatat penjualan dan pendapatan jasa sebesar Rp5,15 triliun, naik 11,95% secara tahunan. Kontributor utama berasal dari penjualan tanah matang yang mencapai Rp2,10 triliun, diikuti pendapatan dari sektor pembangkit listrik yang meningkat signifikan menjadi Rp1,81 triliun.
Diversifikasi sumber pendapatan juga terlihat dari kontribusi jasa dan pemeliharaan, dry port, lapangan golf, serta segmen properti komersial lainnya.
Seiring peningkatan pendapatan, beban pokok penjualan naik menjadi Rp3,11 triliun dari Rp2,63 triliun pada 2024. Namun demikian, Perseroan berhasil menjaga efisiensi biaya operasional, tercermin dari penurunan beban penjualan menjadi Rp68,24 miliar dari sebelumnya Rp105,34 miliar. Beban umum dan administrasi tercatat Rp580,86 miliar sepanjang tahun.
Dari sisi struktur keuangan, pendapatan keuangan mencapai Rp124,75 miliar, sementara beban keuangan masih relatif besar yaitu Rp420,13 miliar. Meski demikian, laba sebelum pajak tetap meningkat menjadi Rp961,53 miliar pada 2025.
Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan neto, laba tahun berjalan tercatat Rp857,12 miliar, tumbuh 11,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Related News
Jadi Buruan Investor, Obligasi RMKE Oversubscribed 2,7 Kali
JPFA Raup Laba Rp4 Triliun Pada 2025, Melonjak 32,89 Persen!
Timur Tengah Bergejolak, Garuda Indonesia Tangguhkan Rute Doha
WIKA Lepas 49 Persen Saham Hotel Indonesia Group ke Entitas Afiliasi
Aksi Serok Saham Pengendali INET di Februari, Gelontorkan Rp290,6M!
FY2025, BWPT Tuai Laba Dobel Digit di Tengah Kenaikan Beban Produksi





