Pengguna Kripto AS Naik Jadi 22 Persen, Tapi Mayoritas Kapok!
:
0
Ilustrasi Foto: Magnific
EmitenNews.com - Sebanyak 22 persen orang dewasa di Amerika Serikat (AS) menyatakan pernah memiliki atau menggunakan kripto. Angka kepemilikan tersebut meningkat 4 persen jika dibandingkan dengan posisi setahun sebelumnya yang sebesar 18 persen.
Meski pemilikan awal mengalami kenaikan, tingkat penggunaan aktif dalam 12 bulan terakhir justru stagnan di level 13 persen. Kondisi tersebut menunjukkan pasar aset digital mulai mencapai batas pertumbuhan yang selama ini didorong oleh rasa ingin tahu semata.
Temuan tersebut dipublikasikan oleh BigGo Finance pada Kamis (29/10/2026) berdasarkan hasil survei lembaga riset Ipsos terhadap 1.545 orang dewasa AS. "Lebih banyak orang mencoba kripto untuk pertama kalinya, tetapi jumlah orang yang terus menggunakannya tidak bertambah," tulis riset yang ditugaskan oleh DeFi Education Fund tersebut.
Peningkatan persentase orang yang pernah memiliki kripto nyaris seluruhnya berasal dari kelompok pengguna nonaktif atau mereka yang memilih berhenti. Responden yang memiliki pengalaman memegang kripto sebelumnya, tetapi tidak menggunakannya lagi dalam setahun terakhir, melonjak dari 5 persen menjadi 11 persen. Sementara itu, niat untuk menggunakan kripto di masa depan tidak berubah di angka 17 persen.
Hasil survei memperlihatkan perbedaan demografis yang tajam dalam adopsi aset digital ini. Tingkat penggunaan di kalangan pria mencapai 18 persen, jauh lebih tinggi ketimbang wanita yang hanya 8 persen. Dari sisi usia, responden di bawah 60 tahun tercatat jauh lebih aktif menggunakan kripto dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Rasa ingin tahu menjadi alasan utama mencoba kripto sebesar 34 persen, disusul investasi jangka panjang sebesar 25 persen.
Akar masalah dari stagnasi ini teletak pada krisis kepercayaan publik yang parah terhadap ekosistem kripto. Hanya 4 persen responden yang memercayai bursa kripto dan 5 persen memercayai platform terdesentralisasi (DeFi). Tingkat kepercayaan ini sangat tertinggal jika dibandingkan dengan bank komersial besar yang mencapai 42 persen dan lembaga koperasi kredit sebesar 48 persen.
Rendahnya kepercayaan tersebut terjadi di tengah ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem keuangan tradisional. Sebanyak 63 persen responden menilai sistem keuangan perlu ditingkatkan untuk melawan kejahatan siber serta ancaman kecerdasan buatan (AI), sementara 74 persen menekankan pentingnya privasi keuangan. Kendati demikian, ketidakpercayaan pada bank tidak otomatis mengalihkan minat masyarakat ke produk kripto.
Tingkat literasi publik mengenai ekosistem terdesentralisasi ini juga tergolong masih sangat rendah. Hanya 2 persen responden yang mengaku memahami DeFi dengan baik, walaupun 40 persen di antaranya mengaku bersedia menggunakannya jika layanannya disediakan oleh lembaga tepercaya. Bahkan, sebanyak 35 persen responden sama sekali tidak tahu cara mendeskripsikan apa itu kripto.
Fenomena stagnasi adopsi kripto di AS ini menjadi pelajaran berharga bagi pelaku pasar serta regulator di Indonesia. Seiring ketatnya pengawasan aset keuangan digital di dalam negeri, penguatan edukasi masyarakat dan jaminan keamanan platform menjadi syarat mutlak agar industri kripto tidak sekadar dilirik karena tren sesaat, tetapi mampu membangun basis pengguna yang loyal dan berkelanjutan.(*)
Related News
Tak Kompromi Soal Inflasi, Fed Masih Terbuka Naikkan Suku Bunga
Persaingan Moda Transportasi Lain Tahan Peringkat ASDP
Induk Google Anjlok 10 Persen, Bursa Wall Street Ambrol
Diplomasi Cegah Eskalasi Timteng Bawa Minyak WTI Sentuh USD102
Tekanan Rupiah Berkurang, The Fed Pertahankan Suku Bunga
Tujuan Ekspor, RI Bidik Kesepakatan Dagang dengan AS USD33 Miliar





