EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup longsor 4,57 persen menjadi 7.577. Perosotan indeks tidak sendiri mainkan bersama dengan mayoritas indeks bursa Asia. Indeks tertekan akibat sentimen negatif eskalasi perang di Timur Tengah.

Situasi kecamuk perang Israel-Amerika Serikat dan Iran tersebut membuat investor global cenderung menghindari aset-aset berisiko. Kondisi diperparah dengan tindakan Fitch Ratings melorot outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat Indonesia tetap level BBB. 

Rupiah juga ditutup melemah menjadi level Rp16.892 per dolar AS (USD). Pemerintah mulai mengkaji sejumlah langkah antisipasi merespon eskalasi konflik antara Iran dengan AS-Israel, terutama dalam menjaga ketahanan energi. Eskalasi itu, akan berdampak langsung terhadap rantai pasok energi global terutama minyak mentah dipasok negara-negara Timur Tengah.

Guna memitigasi risiko pasokan itu, pemerintah memastikan sejumlah opsi untuk mendatangkan minyak mentah dari negara-negara luar kawasan Timur Tengah, yaitu salah satunya dari AS. Maklum, Pertamina telah menjalin kesepakatan dengan sejumlah perusahaan energi AS. Penguatan indeks Wall Street berpotensi mendorong rebound untuk rebound. 

Secara teknikal, terjadi pelebaran histogram negatif MACD, dan indikator Stochastic RSI mendekati area oversold. Indeks sempat melemah hingga level 7.486, mendekati level 7.481 yang pernah disentuh pada akhir Januari 2026 lalu. Kalau indeks mampu bertahan di atas level tersebut berpotensi membentuk pola double bottom. 

Namun, kalau indeks berlanjut melemah, diperkirakan menguji level support baru 7.350-7.400. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para investor untuk mengoleksi sejumlah saham unggulan berikut. Yaitu, Sariguna Primatirta (CLEO), Daaz Bara (DAAZ), Remala Abadi (DATA), BFI Finance (BFIN), dan Ultrajaya (ULTJ). (*)