EmitenNews.com - Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) mencatat tingginya minat investasi reksa dana meningkat di tahun 2025. Hal itu terlihat dari jumlah dana kelolaan (asset under management/AUM) reksadana yang tumbuh 35,06 persen menjadi Rp679 triliun, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp502 triliun.

Pertumbuhan AUM di tahun 2025 ditopang sejumlah jenis reksa dana, di antaranya reksa reksa dana pendapatan tetap yang mencatatkan kenaikan tertinggi 67 persen, reksa dana pasar uang 60 persen, reksa dana terproteksi 11 persen, dan reksa dana saham 3,51 persen. Sementara itu, reksa dana indeks justru mengalami kontraksi -1.64 persen.

Ketua Presidium APRDI, Lolita Liliana, mengatakan pertumbuhan industri reksa dana pada tahun 2025, perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman investor dan perluasan pasar. Salah satu di antaranya yakni melalui SOSEDU APRDI yang digelar di sejumlah kota besar di Indonesia.

"Momentum ini perlu terus dijaga melalui penguatan literasi dan inklusi, khususnya di kalangan generasi muda yang saat ini mendominasi komposisi investor," ujar Lolita di gedung BEI, Senin (20/4/2026).

Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, M Maulana juga menuturkan, indeks reksa dana pada tahun 2025 membukukan kinerja yang solid. Penguatan tersebut selaras dengan penguatan pasar saham domestik yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)N tumbuh 22,13 persen sepanjang 2025.

Di sisi lain, jumlah investor terus mengalami peningkatan. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 19,2 juta SID per akhir 2025, naik 3,23 persen dibandingkan 18,6 juta SID pada akhir 2024. Menariknya, sebanyak 54,24 persen investor berasal dari generasi muda berusia di bawah 30 tahun.

"Sejalan dengan upaya mendorong pertumbuhan industri yang berkelanjutan, OJK bersama para pelaku telah membentuk tim kerja (task force) untuk membahas pengembangan industri Reksa Dana dan pasar modal Indonesia sesuai amanat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK)," kata Maulana.

Di tempat yang sama, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Kristian Manullang, menyoroti tingkat literasi pasar modal telah mencapai 17,78 persen, meskipun tingkat inklusi masih berada di level 1,34 persen.

"Artinya, banyak masyarakat yang tahu, tetapi belum cukup banyak yang memulai. Di sinilah pentingnya peran kita semua untuk melakukan edukasi yang berkelanjutan. Khususnya dalam mendorong masyarakat untuk memulai investasi dari instrumen yang sederhana, salah satunya adalah reksa dana," ujar Kristian.

Menurutnya, penguatan serta peningkatan pemahaman masyarakat terhadap reksa dana menjadi sangat penting, mengingat produk investasi ini bisa menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal pasar modal lebih luas.

"Dalam konteks ini, kami menyambut baik program Sosedu APRDI 2026 dengan tagline Reksadana Aja. Program ini membawa pesan yang kuat karena membangun narasi bahwa investasi dapat dilakukan secara sederhana, bertahap, dan terencana. Kami juga mengapresiasi program Pintar Reksadana yang diluncurkan oleh OJK dan APRDI guna mendorong masyarakat untuk berinvestasi reksadana dengan terencana dan disiplin," kata Kristian.

Adapun rangkaian Road to Pekan Reksa Dana 2026 digelar di sejumlah kota, yaitu Surabaya (7–8 April), Semarang (9–10 April), Medan (14–15 April), Makassar (16–17 April), Jakarta (20 April), Bandung (20–21 April) dan Palembang (23 April).

Sebagai puncak kegiatan, pada 27 April 2026 akan diselenggarakan seremoni peluncuran program PINTAR Reksa Dana dan kampanye #ReksaDanaAja yang akan dirangkaikan dengan penyelenggaraan Pekan Reksa Dana 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Adapun Pekan Reksa Dana akan berlangsung pada 25 April hingga 1 Mei 2026.