EmitenNews.com - Pertamina Geothermal Energy (PGEO) terus memperkuat peran dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia, dan kontribusi terhadap Nationally Determined Contribution (NDC). Itu dilakukan melalui penyediaan energi rendah karbon. Meski bisnis telah menjadi bagian dari energi hijau rendah emisi, PGEO tetap konsisten menjalankan berbagai inisiatif efisiensi energi, pengurangan emisi seluruh lini bisnis, dan operasional. 

Langkah tersebut merupakan bagian dari implementasi operasi berkelanjutan. Penerapan praktik keberlanjutan secara konsisten menjadi bagian penting dalam memastikan pengembangan panas bumi andal, efisien, dan berdaya saing. Seluruh implementasi keberlanjutan dijalankan secara transparan dengan mengacu pada standar pelaporan global. 

Pelaporan keberlanjutan PGEO juga telah melalui proses verifikasi oleh lembaga independen berlisensi AA1000 dengan kualifikasi assurance type 1, dan type 2 level moderate. Berdasar laporan keberlanjutan 2025, PGEO mencatat penghematan energi 90.502,28 MWh sepanjang 2026, meningkat signifikan dibanding akhir 2024 sebesar 40.058,77 MWh. 

Peningkatan efisiensi itu, didorong berbagai optimalisasi operasional sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP), antara lain debottlenecking jalur produksi Area Ulubelu yang memungkinkan sumur bertekanan rendah masuk sistem produksi, optimalisasi operasional vacuum pump pada Gas Extraction System seluruh PLTP PGE untuk menekan own use, dan modifikasi hand control valve Lumut Balai guna meminimalkan uap terbuang ke rock muffler.

Selain itu, PGEO juga terus mendorong berbagai inovasi efisiensi energi, dan pengurangan emisi, termasuk pemanfaatan energi terbarukan untuk kebutuhan internal operasional seperti penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) fasilitas operasional, dan perkantoran. Langkah itu, untuk mengoptimalkan pemanfaatan listrik, dan uap panas bumi.

Itu krusial agar dapat memberi kontribusi lebih besar terhadap sistem ketenagalistrikan nasional. Di sisi lain, PGEO mencatat rasio intensitas energi 0,037 MWh/MWh pada 2025 atau turun 10,10 persen dibanding edisi 2024. Rasio itu, merupakan perbandingan antara total energi dikonsumsi PGEO dengan total listrik panas bumi yang diproduksi. Capaian itu, mencerminkan makin efisien penggunaan energi dalam mendukung operasional.

Sementara itu, penggunaan energi terbarukan dalam operasional tetap terjaga tinggi mencapai 94,36 persen. Nah, dari sisi pengelolaan emisi, intensitas emisi PGEO tercatat 41,12 g CO2e/kWh atau jauh di bawah ambang batas EU Taxonomy, dan taksonomi keuangan bberkelanjutan Indonesia 100 g CO2e/kWh. Capaian itu, menunjukkan operasional panas bumi PGEO berada dalam kategori energi rendah karbon. 

”Pada saat bersamaan, kapasitas operasi panas bumi PGE turut berkontribusi terhadap penghindaran emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e pada 2025,” tutur Andi Joko Nugroho, Direktur Operasi Pertamina Geothermal Energy.

Perkuat Praktik 4R dan Efisiensi Air Seluruh Operasional

Selain mendorong efisiensi energi dan pengurangan emisi, PGEO juga terus memperkuat pengelolaan limbah non-B3 secara berkelanjutan melalui pendekatan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery). Pada 2025, volume limbah non-B3 berhasil dikelola melalui pendekatan tersebut mencapai 17 ton, meningkat 24,5 persen dibanding tahun 2024 sebesar 13,66 ton.