Porsi Kepemilikan Asing di SRBI Naik Jadi 27,11 Persen, Total Rp288T
:
0
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Dok. BeritaSatu.
EmitenNews.com - Porsi kepemilikan investor asing di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) meningkat menjadi 27,11 persen dari total posisi SRBI per 20 Juli 2026. Totalnya dalam catatan Bank Indonesia, sebesar Rp288,65 triliun, naik dari Rp238,09 triliun pada 15 Juni 2026.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengemukakan hal tersebut dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Perry menyampaikan bahwa suku bunga SRBI telah dinaikkan guna menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Rupiah kembali menguat ke Rp17.885 per dolar AS pada 21 Juli 2026, setelah sempat melemah sejak akhir Juni 2026 akibat kembali meningkatnya konflik di Timur Tengah. Pelemahan kurs rupiah juga dipengaruhi menguatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga AS atau Fed Funds Rate (FFR).
Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan dengan level akhir Juni 2026 sebesar Rp17.880.
Menurut Perry Warjiyo, guna tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan intervensi baik di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar dalam negeri.
BI juga mengoptimalkan seluruh instrumen moneter dan memberikan insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10 persen bagi investor asing. Sasarannya semakin meningkatkan daya tarik masuknya investor asing serta mengompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor.
Lainnya, BI juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese renminbi (CNH) terhadap rupiah, sejalan dengan meluasnya penggunaan mata uang lokal (local currency transaction/LCT) untuk penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi.
Ke depan BI akan terus memperluas pemberian insentif untuk tetap menarik aliran masuk modal asing, memperluas pemanfaatan LCT, dan juga mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas. Semuanya diarahkan untuk semakin memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Perry Warjiyo meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia melalui berbagai penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah, imbal hasil yang menarik. Juga karena prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik. ***
Related News
Lepas Jerat Suspensi, Saham Ini Melesat 26 Persen
BEI Jatuhkan Sanksi SP3 ke Perusahaan Ini
BEI Ungkap 4 Perusahaan Antre IPO
BEI Dukung Penuh Rencana DPR Tarik Dana BPJS-Taspen ke Pasar Modal
DPR Buka Potensi Manfaatkan Fund Negara Rp1.200T Masuk Pasar Modal
Utang Luar Negeri Naik Jadi USD444,4 Miliar, Cek Kata BI dan Purbaya





