EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 0,89 persen menjadi 6.130. Secara teknikal, histogram MACD IHSG berlanjut menyempit, dan Stochastic RSI melemah di area pivot. So, sepanjang perdagangan Rabu, 29 Juli 2026 IHSG akan menguji level 6.050-6.100.

Rupiah kembali ditutup melemah 0,41 persen menjadi Rp18.083 per dolar Amerika Serikat (USD) di pasar spot, mendekati level terendah sepanjang masa di level Rp18.190 per USD. Berlanjutnya tekanan terhadap Rupiah itu, dipengaruhi oleh faktor eksternal dan domestik.

Sisi eksternal, dipengaruhi penguatan indeks USD menjelang pertemuan the Fed pekan ini. Sedang dari domestik, investor bersikap wait and see di tengah peningkatan ketidakpastian penunjukan Gubernur Bank Indonesia definitif. Pasalnya, Gubernur BI baru dinilai dapat berpengaruh terhadap kebijakan bank sentral ke depan.

Perwakilan Perdagangan AS (USTR) mengisyaratkan pengenaan tarif impor tambahan menyasar negara-negara Asia, termasuk Tiongkok, Vietnam, dan Korea Selatan. USTR sedang melakukan penyelidikan dugaan kelebihan kapasitas produksi, dan praktik dumping manufaktur dari negara-negara tersebut.

Pemerintah Indonesia perlu waspada setelah mendapat tarif tambahan sebesar 10 persen dari AS pekan lalu. Sementara itu, investor akan menanti hasil pertemuan the Fed. Disebut-sebut The Fed diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 3,5-3,75 persen.

Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para investor mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Unilever Indonesia (UNVR), BFI Finance Indonesia (BFIN), Gudang Garam (GGRM), Elnusa (ELSA), dan Wismilak Makmur (WIIM). (*)