PRDA Stock Split, Bagaimana Valuasi & Prospeknya?
:
0
Suasana kantor Prodia. Foto - Dok PRDA
EmitenNews.com - Prodia Widyahusada alias Prodia (PRDA) tengah menyiapkan rangkaian aksi korporasi strategis. Itu berupa pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:5. Tindakan korporasi itu, didukung capaian kinerja keuangan solid, dan proyeksi bisnis cerah sepanjang tahun 2026. Aksi korporasi itu, didahului program pembelian kembali (buyback) saham di pasar sekunder.
Melalui rasio stock split 1:5, setiap 1 saham lama akan dipecah menjadi 5 saham baru. Dengan demikian, nilai nominal saham akan berubah dari Rp100 menjadi Rp20 per saham, sedangkan jumlah saham ditempatkan dan disetor akan meningkat dari 937,5 juta saham menjadi 4.687,5 juta saham setelah pelaksanaan stock split.
Berdasarkan data Keterbukaan Informasi Perseroan pada laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 15 Oktober 2026, langkah stock split untuk memperluas partisipasi investor ritel dengan membuat harga per lembar saham PRDA menjadi lebih terjangkau. Saat bersamaan, aksi korporasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan volume, dan frekuensi transaksi saham PRDA secara berkesinambungan di bursa saham.
Kinerja Keuangan Positif dan Prospek Cerah 2026
Rencana aksi korporasi PRDA itu berdiri di atas kinerja fundamental kokoh. Mengacu pada laporan keuangan semester I-2026, emiten laboratorium klinik itu, mencatat pendapatan bersih Rp1,11 triliun. Angka tersebut naik 8,50 persen dibanding periode yang sama tahun lalu alias Year-on-year (YoY). Nah, dari sisi profitabilitas, laba usaha tumbuh 38,91 persen YoY menjadi Rp88,35 miliar, diikuti kenaikan laba bersih 11,45 persen YoY menjadi Rp77,57 miliar.
Selama periode 2023–2025, pendapatan Prodia menunjukkan pertumbuhan konsisten, dari Rp2,22 triliun pada 2023 menjadi Rp2,25 triliun pada 2024 dan Rp2,28 triliun pada 2025. Sementara itu, laba bersih meningkat dari Rp259,9 miliar pada 2023 menjadi Rp270,2 miliar pada 2024, sebelum tercatat sebesar Rp206,8 miliar pada 2025. Tren tersebut menunjukan pertumbuhan pendapatan berkelanjutan, dengan profitabilitas tetap menjadi aspek penting perlu dicermati investor dalam menilai kinerja fundamental, dan prospek saham PRDA.
Laju kinerja itu, salah satunya disokong segmen pemeriksaan esoterik menyumbang Rp277,74 miliar, bertumbuh 14,07 persen YoY. Berdasar laporan tahunan terakhir PRDA, hingga tutup tahun 2026 nanti manajemen membidik pendapatan bersih konsolidasian dapat bertumbuh positif. Sejumlah langkah strategis telah dilakukan untuk mengejar target tersebut.
Mulai dari penguatan rantai pasok alat kesehatan lewat Prodia Line (PRDL), entitas asosiasi Prodia telah resmi melantai di BEI pada 9 Juli 2026. Lalu ada penguatan lini pengobatan regeneratif via PT Prodia Stemcell Indonesia (ProSTEM) diwujudkan melalui kerja sama layanan Stemcell Clinics by Prodia, hingga modernisasi sistem, dan adopsi kecerdasan buatan (AI) untuk memangkas biaya operasional.
Memasuki 2026, peta industri kesehatan bergeser ke arah layanan preventif dan personalisasi, seperti wellness tourism, personalized wellness—sebagaimana diterapkan lewat aplikasi U by Prodia dan fitur U-Buddy—hingga longevity marketing. Trances ini mendorong lonjakan permintaan diagnostik dan membuka ruang ekspansi pasar alat kesehatan nasional yang diproyeksikan Kementerian Kesehatan mencapai USD2,2 miliar per tahun, sekaligus menjadi peluang bagi pertumbuhan berkelanjutan PRDA.
Langkah Buyback, Bentuk Optimisme Manajemen
Related News
Rumor Haji Isam Siap Akuisisi BCA (BBCA) dalam Pantauan OJK, Faktanya?
Lepas Aset Digital, Laba EAST Kuartal III Tumbuh Positif
Genjot Produksi Pani Gold Mine, EMAS Akselerasi Proyek CIL 2
Gelontor Rp387,22 Miliar, Pengendali Baru Tuntaskan MTO Saham MBSS
Makin Parah, Rugi ADCP Bengkak 1.308 Persen
Respons Amuk Karhutla, ini Penjelasan Grup Salim





