EmitenNews.com - PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) berhasil membukukan lonjakan keuntungan bersih yang cukup impresif sepanjang sembilan bulan pertama (9M) tahun 2026. Perusahaan mencetak laba periode berjalan yang melesat 27,34 persen menjadi Rp35,06 miliar, jauh melampaui raihan periode yang sama tahun lalu yang hanya berada di angka Rp27,53 miliar. 

Bahkan, porsi laba yang murni mengalir ke kantong pemegang saham induk jumlahnya jauh lebih besar, yakni melompat dari Rp30,25 miliar menjadi Rp37,96 miliar. Tren positif pada batas bawah atau bottom-line ini diraih di tengah performa total pendapatan perusahaan yang tumbuh cukup moderat sebesar 5,06 persen, beranjak menjadi Rp243,73 miliar dari sebelumnya Rp231,98 miliar, yang berarti ada tambahan aliran dana baru sekitar Rp11,75 miliar.

Panggung Hiburan Luring Rebut Takhta dari Media Sosial

Di balik pertumbuhan omzet agregat yang terkesan santai tersebut, sejatinya telah terjadi perubahan besar pada mesin pencetak uang utama perusahaan. Pundi-pundi dari panggung hiburan luring yang mencakup lini rumah produksi, acara (event), dan penjualan tiket secara naik tajam menjadi Rp86,39 miliar dari yang tadinya hanya menyumbang Rp39,69 miliar. 

Posisi ini sukses merebut takhta bisnis konten media sosial yang selama ini diandalkan, di mana sektor digital tersebut justru sedang lesu dengan penurunan pemasukan dari Rp74,77 miliar menjadi hanya Rp57,13 miliar. 

Pelemahan ini juga menular pada jasa duta merek dan manajemen talenta yang ikut anjlok dari Rp43,64 miliar menjadi Rp25,45 miliar. Sementara itu, penjualan produk makanan, minuman, dan kecantikan berbasis kekayaan intelektual terlihat sekadar jalan di tempat dengan raupan Rp74,11 miliar, beda tipis dari realisasi tahun lalu sebesar Rp72,01 miliar.

Jurus Hemat Selamatkan Margin Keuntungan

Lonjakan laba bersih perusahaan bukan cuma perkara jualan tiket dan acara yang sedang laris manis, melainkan juga berkat kelihaian manajemen dalam menambal kebocoran beban pengeluaran. 

Di level produksi dasar, biaya modal untuk memproduksi pendapatan (Cost of Goods Sold) sejatinya sempat membengkak 11,49 persen menjadi Rp154,18 miliar, lebih tinggi ketimbang tahun lalu yang senilai Rp138,29 miliar. Tekanan ini membuat laba kotor sedikit tergerus 4,42 persen menjadi Rp89,55 miliar, yang berimbas pada turunnya margin laba kotor dari 40,39 persen ke 36,74 persen.

Namun, perusahaan merespons cepat dengan mengeksekusi strategi efisiensi yang sangat ketat pada beban lainnya. Manajemen berhasil membalikkan pos beban penjualan yang tadinya mencatatkan pengeluaran Rp19,30 miliar kini berbalik menjadi angka penyesuaian positif sebesar Rp9,39 miliar.