EmitenNews.com - Konsumsi Pemerintah Indonesia melesat hingga 15,97 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II 2026. Lonjakan belanja negara ini menjadi salah satu penopang utama yang menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di level 5,29 persen (yoy).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, dalam siaran persnya mengonfirmasi bahwa kenaikan signifikan pada konsumsi pemerintah tersebut bersumber dari peningkatan realisasi belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji ke-13, serta realisasi belanja barang dan jasa yang terkait dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ramdan menyampaikan bahwa Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan pada tahun 2026 akan tetap baik, yakni berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen (yoy). Kinerja ini disokong penuh oleh kuatnya permintaan domestik serta sinergi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia.

Selain konsumsi pemerintah, aktivitas ekonomi domestik dari sisi pengeluaran lainnya turut mencatatkan tren positif. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen (yoy) yang didorong oleh momentum libur sekolah dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Sementara itu, Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh tinggi sebesar 6,93 persen (yoy).

Sektor investasi nasional juga tercatat tumbuh 6,87 persen (yoy) yang didukung oleh kenaikan pada subkomponen kendaraan serta peningkatkan realisasi penanaman modal dari pihak pemerintah maupun swasta. Di sisi lain, kinerja ekspor Indonesia mampu tumbuh 4,13 persen (yoy) seiring masih terjaganya permintaan dari mitra dagang utama.

Dari sisi Lapangan Usaha (LU), penyerapan program MBG memberikan dampak langsung pada pertumbuhan positif sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum di berbagai wilayah Indonesia. Sektor ini tumbuh berdampingan dengan kontributor utama ekonomi lainnya seperti Industri Pengolahan, Perdagangan, Konstruksi, serta Informasi dan Komunikasi.

Secara spasial, Balinusra mencatatkan pertumbuhan ekonomi daerah tertinggi pada triwulan II 2026, kemudian disusul oleh wilayah Jawa, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, hingga Maluku dan Papua.(*)