EmitenNews.com - GMF Asia (GMFI) meracik right issue maksimal 22,03 miliar eksemplar. Penerbitan saham seri B tersebut dibalut dengan nominal Rp19 per lembar. Investor lawas yang mengabaikan aksi tersebut akan mengalami dilusi kepemilikan saham maksimal 15 persen.

Manajemen emiten bengkel pesawat itu mengklaim hajatan tersebut dipentaskan untuk memperkuat kapasitas pendanaan, dan pemenuhan ketentuan free float sebagaimana diwajibkan dalam Peraturan I-A. Hasil right issue untuk mendukung investasi dan pengembangan usaha, optimalisasi struktur pendanaan, dan penguatan modal kerja.

Dengan begitu, diharap dapat memberi fleksibilitas pendanaan dalam mendukung pengembangan usaha, dan kebutuhan operasional secara berkelanjutan. Rincian mengenai rencana penggunaan dana akan disesuaikan dengan kondisi kala HMETD diterbitkan dengan mempertimbangkan pengelolaan modal yang optimal untuk kepentingan perseroan.

Manajemen GMFI berhak untuk melakukan penyesuaian terhadap penggunaan dana dengan mempertimbangkan keadaan, dan faktor-faktor lain yang dianggap layak. Rencana itu, akan dimintakan persetujuan investor dalam rapat umum pemegang saham luar biasa pada 19 November 2026. Pemodal berhak hadir harus tercatat sebagai pemegang saham perseroan pada 27 Oktober 2026.

Kemarin saham anak usaha Garuda Indonesia (GIAA) itu menguat 4,08 persen alias 2 poin menjadi Rp51. Hasil itu, membawa saham GIAA keluar dari zona gocap, dan menjauh dari rezim Rp1. Sejak awal tahun ini, saham GMFI terkelupas 31,08 persen setara 23 poin dari edisi 2 Januari 2026 di level Rp74. (*)