EmitenNews.com - Ratu Mulyanengsih (48), seperti namanya ia adalah sosok pemimpin di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Jakarta Selatan. Berlokasi di Jalan Margaguna Raya Nomor 1 Kecamatan Cilandak Jakarta Selatan, sekolah ini beroperasi di lingkungan Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi (Pusdiklatbangprof) Kementerian Sosial RI, sekaligus merupakan rintisan sekolah rakyat pertama di Jakarta.

Di kala libur semester, Kepala SRMA 10 Jakarta Selatan itu masih beraktivitas di ruang kerjanya yang sederhana, namun memancarkan optimisme yang kuat. Didominasi dinding bercat putih, serta furnitur sofa dan meja berwarna coklat, ruangan dengan luas sekitar 4x6 meter itu mampu membuat kesan menenangkan sekaligus memberi rasa aman. Tak ketinggalan, bendera merah putih berdiri tegak menjadi elemen pengisi ruangan, bersama bendera Sekolah Rakyat yang diposisikan bersebelahan.

Ratu tersenyum, kala ditemui Emitennews pada Kamis (25/6). Pandangan matanya tenang, ramah, namun penuh rasa percaya diri. Senyumnya yang tipis dan hangat, menunjukkan keramahan dan sikap yang terbuka kepada siapapun.

Wanita berusia 48 tahun itu adalah guru fisika senior dengan rekam jejak mentereng sebagai Wakil Kepala Sekolah di SMA Negeri 30 Jakarta. Jalurnya untuk menjadi kepala sekolah reguler DKI Jakarta, bahkan sudah terbuka lebar.

“Mundur saja, nanti juga dipastikan lolos jadi kepala sekolah di reguler,” kenang Ratu menirukan ucapan rekannya.

Secara materi, menolak kesempatan itu terdengar tidak logis. Namun, langkah kaki Ratu justru berhenti di sebuah tempat yang jauh dari zona nyaman, SRMA 10 Jakarta Selatan. Sebuah sekolah asrama gratis besutan Kementerian Sosial RI yang mewadahi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

“Tuhan sudah mentakdirkan saya di sini,” ujar Ratu pelan. “Kalau saya mundur hanya karena kesejahteraan di sana lebih tinggi, rasanya saya tidak punya empati. Anak-anak ini benar-benar butuh,” tuturnya.

Hadapi ‘Adonan Mentah’

Kala pertama kali menginjakkan kaki di Sekolah Rakyat, Ratu tidak disambut oleh koridor sekolah yang rapi atau siswa yang duduk manis membaca buku. Sebaliknya, ia justru dihadapkan pada sebuah ‘adonan mentah’ yang belum terwujud dalam bentuk konkret. Sekolah itu baru diresmikan Juli 2025 lalu, belum memiliki SOP, visi-misi, bahkan belum memiliki seragam atau buku.

Lebih dari itu, tantangan terbesarnya ada pada kondisi psikologis para siswa. Mereka adalah anak-anak yang selama ini merasa terpinggirkan oleh kerasnya ibu kota. Di dua bulan pertama, dari halaman terbuka hingga ruang kelas yang masih belum terdapat meja dan kursi, sekolah dipenuhi aroma konflik.