EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan Selasa (21/7). Penguatan mata uang garuda ini berhasil menjauhkan posisi rupiah dari level psikologis Rp18.000 per USD di tengah sikap pelaku pasar yang mencermati arah kebijakan moneter domestik dan global.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, kurs tengah rupiah berada di level Rp17.976 per USD pada Selasa (21/7), menguat dibandingkan posisi sesi sebelumnya di Rp18.008 per USD. Sementara itu, pantauan konversi pasar riil di Google Finance menunjukkan rupiah menguat lebih jauh hingga menyentuh kisaran Rp17.900 per USD, menguat dibanding hari sebelumnya Rp17.938.

Di pasar spot Bloomberg, pergerakan nilai tukar rupiah terpantau stabil seiring melandainya harga minyak mentah dunia Brent ke level USD 88,88 per barel. Penurunan harga energi ini memberikan sentimen positif dengan menekan potensi lonjakan inflasi impor di dalam negeri.

Di sisi lain, pergerakan indeks dolar AS (DXY) cenderung melandai pasca munculnya kabar peninjauan usulan gencatan senjata di Timur Tengah. Meredanya ketegangan geopolitik menahan laju penguatan dolar AS sebagai aset aman.

Dari dalam negeri, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap investor yang mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait penentuan suku bunga acuan, didukung penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pergerakan rupiah di pasar uang saat ini cenderung bergerak terbatas.

"Pelaku pasar masih hati-hati mengantisipasi hasil RDG Bank Indonesia yang kemungkinan akan menentukan arah kebijakan likuiditas ke depan di tengah ketidakpastian global," kata Rully Nova dalam keterangannya yang dikutip dari Antara pada Selasa (21/7).(*)