Rupiah Menguat, Tapi Data ini Masih Jadi Ancaman
:
0
Pantauan Emitennews.com dari konversi kurs Google pada 11.02 hari Rabu ini rupiah berada di level Rp17.955 per dolar AS, menguat dari Rp18.038/USD posisi akhir 9 Juni
EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah menguat dan kembali ke bawah level Rp18.000 per dolar AS sehari setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) 25 basis poin dan berita diundangnya ekonom Chatib Basri - yang sempat diisukan bakal mengisi jabatan Menkeu - oleh Presiden Prabowo Subianto ke Istana Kepresidenan.
Pantauan Emitennews.com dari konversi kurs Google pada 11.02 hari Rabu ini rupiah berada di level Rp17.955 per dolar AS, menguat dari Rp18.038/USD posisi akhir 9 Juni. Sebelum kedua sentimen positif tersebut muncul, rupiah hingga Selasa pagi masih berada di kisaran Rp18.188 per dolar AS.
Data terkini Tradingview rupiah juga masih berada di bawah Rp18.000, tepatnya Rp17.990 per dolar AS, menguat dibanding hari sebelumnya di kisaran Rp18.039 per dolar AS.
Selain penguatan yang masih terbatas, sejumlah data juga masih mengancam rupiah. Trading Economics melaporkan indeks dolar masih tetap kuat dan berfluktuasi di sekitar 100 pada hari Rabu setelah mengalami rebound intraday yang tajam di sesi sebelumnya, karena ketegangan yang kembali terjadi di Timur Tengah.
Masih perkasanya dolar AS membuat Yen Jepang Rabu ini diperdagangkan sekitar 160,3 per dolar, mendekati level terlemahnya sejak Juli 2024 meskipun inflasi grosir negara itu meningkat dengan kecepatan tercepat dalam tiga tahun terakhir akibat lonjakan harga energi. Dolar Australia juga masih tetap tertekan di bawah $0,705, bertahan di level terendah sembilan pekan.
Dolar masih tetap kuat karena perekonomian dan tingkat inflasi yang belum sepenuhnya terkendali di AS membuat Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Di sisi lain ketegangan geopolitik global yang meningkat di Timur Tengah juga memicu investor global memindahkan aset mereka ke instrumen aman (safe haven), termasuk memperbanyak memegang dolar AS. Permintaan masif terhadap mata uang AS membuat indeks dolar terus bertahan kuat di level tinggi sepanjang semester pertama tahun ini.
Itulah sebabnya dolar cenderung menguat tidak hanya terhadap rupiah, tetapi juga mata uang lain. Jadi rupiah belum benar-benar aman.(*)
Related News
Bittime Ingatkan Investor Kembali Minati USDT dan Aset Kripto Utama
Rupiah Pagi ini Menguat Usai Fed Tahan Suku Bunga
Emas Antam Ikut Naik Rp15 Ribu Usai Fed Tahan Suku Bunga
Keputusan Fed Tahan Dolar di Bawah 101, Ruang Napas Buat Rupiah
Fed Tahan Bunga, Harga Emas dan Perak Lanjut Menguat
Imbal Hasil Treasury AS Naik ke 4,66 Persen Usai Sinyal The Fed





