Rupiah Menguat Usai BI Tahan Suku Bunga
:
0
Uang rupiah. (Foto: Dok)
EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup menguat stabil setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75 persen. Keputusan tersebut diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 21–22 Juli 2026.
Berdasarkan data kurs tengah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu (22/7/2026), mata uang rupiah ditutup pada posisi Rp17.904 per USD. Posisi ini mencatatkan penguatan sebesar 30 poin atau sekitar 0,17 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya di level Rp17.934 per USD.
Di pasar transaksi non-bank dan platform konversi komersial sore ini, nilai tukar acuan Google Finance pada pukul 15:45 berada di level Rp17.900 per USD. Naik dari sebelumnya Rp17.918. Sementara di platform transfer dana internasional Wise mencatat nilai konversi riil pasar tengah (mid-market rate) sebesar Rp17.890 per USD dengan estimasi nilai terima bersih setelah biaya transaksi disesuaikan pada sistem masing-masing layanan.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa langkah moneter mempertahankan BI Rate konsisten dengan upaya mitigasi risiko ketidakpastian pasar keuangan global serta menjaga stabilitas inflasi nasional.
Analis Pasar Uang Lukman Leong menyampaikan bahwa respon positif rupiah dipicu oleh kejelasan arah kebijakan BI. "Keputusan BI mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen memberikan kepastian dan menjaga imbal hasil aset rupiah tetap komparatif di tengah dinamika nilai tukar global," kata Lukman.
Sementara itu dari pasar global, Indeks Dolar AS (DXY) terpantau bergerak stabil di posisi 101,17. Kebijakan moneter BI yang terukur berhasil menopang daya tahan rupiah dari tekanan sentimen eksternal.(*)
Related News
Racik Strategi Investasi dengan Teknologi Digital, Cek Penjelasannya
Inflasi AS melandai ke 3,4%, Redam The Fed Naikkan Suku Bunga
Bittime Nilai Minat RWA Meningkat, Ondo Finance Beberkan Pendorongnya
Emas Antam dan Spot Dunia Turun Jelang Data Inflasi AS
Sektor Teknologi Melesat, Saham Korea dan China Terangkat
Investor Tunggu Rilis Inflasi AS, Emas Bertahan di USD4.370





