EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan berlapis dari eksternal dan domestik menjelang perdagangan pekan kedua bulan ini di tanggal 6–10 April 2026.

Pelemahan nilai tukar rupiah, lonjakan harga minyak dunia, serta penyesuaian metodologi indeks global terkait High Shareholding Concentration (HSC) menjadi faktor yang membayangi pergerakan pasar.

Pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026), IHSG berada di level 7.026 atau melemah dibandingkan pekan sebelumnya. Sepanjang pekan, investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih (outflow) sekitar Rp2,8 triliun di pasar reguler.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menjelaskan tekanan global berasal dari meningkatnya tensi geopolitik setelah pernyataan Donald Trump terkait potensi serangan terhadap Iran.

Kondisi tersebut memicu peralihan dana ke aset safe haven dan menekan pasar saham, khususnya di negara berkembang.

“Akibatnya muncul ketidakpastian tinggi, sehingga aset berisiko seperti saham di pasar berkembang, termasuk IHSG kemungkinan besar bakal kena aksi jual jangka pendek,” jelas David.

Dari dalam negeri, sentimen datang dari implementasi program B50 yang diumumkan oleh Airlangga Hartarto. Kebijakan ini dinilai berpotensi meningkatkan tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak goreng, sehingga dapat berdampak pada daya beli masyarakat dan sektor consumer goods.

David menambahkan, kombinasi kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah menjadi risiko utama bagi stabilitas ekonomi. Jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel dan rupiah melemah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS, tekanan terhadap APBN dan inflasi domestik berpotensi meningkat signifikan.

Dalam kondisi tersebut, IHSG diproyeksikan bergerak dalam rentang support 6.700 dan resistance 7.250. Tekanan tambahan juga datang dari penyesuaian struktur kepemilikan saham (HSC) yang berpotensi memicu rebalancing oleh investor global.

Merespons dinamika pasar, IPOT merekomendasikan sejumlah saham dengan indikator harga sebagai berikut:

PT Sumber Tani Agung Resources Tbk. (STAA)

Current Price: Rp1.350

Entry: Rp1.350

Target Price: Rp1.460 (potensi 8,15 persen)

Stop Loss: Rp1.295 (risiko -4,07 persen)

Risk to Reward Ratio: 1:2,0

PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR)