EmitenNews.com - Tekanan bertubi-tubi dari eksternal membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh dalam kelelahan teknikal. Dalam sepekan terakhir periode 20–24 April 2026, IHSG terkoreksi 6,61 persen dan ditutup di level 7.129,49, menandai dominasi kuat sentimen risk-off di pasar domestik.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menilai pelemahan tajam ini dipicu eskalasi geopolitik Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak sekaligus meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi tersebut turut menekan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi hingga menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di Rp17.315 per dolar AS.

“Kondisi eksternal tersebut juga berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar Rupiah yang terdepresiasi drastis hingga menyentuh All Time Low di Rp17.315/USD akibat derasnya aliran modal keluar (outflow) yang masif dari pasar keuangan domestik,” ucap Brigita.

Tekanan juga datang dari keputusan MSCI yang membekukan rebalancing indeks Indonesia untuk Mei 2026. Hal ini memperparah aksi jual investor asing dengan total net sell mencapai Rp42,8 triliun secara year to date. Aliran keluar dana ini terutama membebani saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi motor penggerak indeks.

Secara teknikal, IHSG kini berada di area oversold setelah menutup gap di kisaran 7.308–7.346. Kondisi ini membuka peluang terjadinya technical rebound jangka pendek, meski tren utama masih bearish. Level krusial yang kini diuji berada di rentang 7.100–7.150, dengan potensi pelemahan lanjutan menuju 7.022 hingga 6.917 jika gagal bertahan.

Secara sektoral, saham energi dan logistik dinilai relatif lebih tahan terhadap tekanan, seiring dukungan harga komoditas. Sementara sektor teknologi dan keuangan masih rentan terhadap fluktuasi suku bunga dan nilai tukar.

Dalam kondisi pasar yang volatil, IPOT merekomendasikan strategi defensif dengan pendekatan trading selektif. Empat pilihan yang disorot yakni DKFT, ESSA, ERAA, serta ETF XIIC yang dinilai memiliki kekuatan relatif dan dukungan katalis fundamental di tengah tekanan pasar.

Brigita menekankan, disiplin manajemen risiko menjadi kunci utama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Tanpa adanya perbaikan signifikan pada sentimen geopolitik dan stabilitas rupiah, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan cenderung terbatas dan penuh volatilitas dalam jangka pendek.