Saham FORE di Awal 2026, Euforia Digital atau Fundamental yang Matang?
Saham FORE di Awal 2026, Euforia Digital atau Fundamental yang Matang? Sumber Gambar: Tempo
EmitenNews.com - Lanskap industri kopi ritel di Indonesia telah bergeser dari sekadar adu banyak gerai menjadi perang efisiensi modal dan loyalitas digital. Di tengah hiruk-pikuk ini, PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) muncul dengan narasi transformasi yang cukup kontras dibandingkan masa awal berdirinya sebagai startup teknologi. Melalui pendekatan resiliensi strategis, Fore berhasil menavigasi fase kritis pasca-pandemi dengan mengubah model bisnis dari pertumbuhan agresif menjadi operasional yang berorientasi pada profitabilitas struktural. Keberhasilan ini berakar pada filosofi premium affordability, yakni menghadirkan kopi specialty berkualitas tinggi dari biji lokal premium dengan harga yang tetap terjangkau bagi pasar massal.
Transformasi Laba dan Berlayar Keluar dari Zona Merah
Jika menilik data historis sejak melantai di bursa dengan rentang harga 52 minggu di Rp252 - Rp800, Fore telah melakukan pemulihan struktural yang sangat impresif. Pada tahun 2022, perusahaan masih mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp60 miliar, namun berhasil membalikkan keadaan menjadi laba bersih positif pada akhir 2023. Memasuki tahun berjalan 2026, Fore diproyeksikan mencatatkan laba bersih hingga Rp179 miliar, yang mencerminkan pertumbuhan tahunan (CAGR) laba bersih sebesar 73% untuk periode 2024-2026. Perubahan haluan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan hasil dari peningkatan produktivitas gerai secara nyata, di mana rata-rata transaksi harian per gerai melonjak signifikan dari hanya 88 transaksi pada 2021 menjadi 242 transaksi pada September 2024.
Digital Moat untuk Kuasai Pasar Lewat Presisi Data Konsumen
Keunggulan kompetitif Fore yang paling sulit direplikasi oleh kompetitor adalah ekosistem digitalnya yang sangat matang. Meskipun secara jumlah gerai Fore masih berada di angka 217 unit per September 2024—masih di bawah raksasa lain seperti Janji Jiwa atau Kopi Kenangan, kekuatan Fore terletak pada interaksi digital per gerai yang jauh lebih padat. Aplikasi Fore secara konsisten menduduki peringkat atas di App Store dan Google Play, memberikan perusahaan akses ke data perilaku konsumen yang sangat kaya. Data ini menjadi dasar bagi sembilan tahap strategi inovasi produk mereka, mulai dari riset tren kuantitatif hingga Flavor Group Discussion (FGD), yang memastikan setiap menu baru memiliki probabilitas sukses yang tinggi di pasar sebelum resmi diluncurkan.
Struktur Modal sebagai Strategi De-leveraging dan Kesehatan Neraca
Dari sisi neraca, Fore menunjukkan disiplin keuangan yang jarang ditemukan pada emiten F&B yang sedang ekspansif. Perusahaan secara agresif melakukan strategi de-leveraging atau pengurangan beban utang secara bertahap. Utang jangka panjang diproyeksikan menyusut tajam dari Rp74 miliar pada 2023 menjadi hanya sekitar Rp6 miliar pada akhir 2026. Langkah ini, dikombinasikan dengan posisi kas yang diperkirakan tumbuh menjadi Rp149 miliar pada akhir 2026, membuat Fore memiliki posisi net cash yang sangat kuat. Rasio utang bersih terhadap ekuitas yang diproyeksikan mencapai -16,8% di tahun 2026 menunjukkan bahwa perusahaan memiliki bantalan likuiditas yang sangat aman untuk mendanai ekspansi tanpa perlu bergantung pada pinjaman luar yang mahal di tengah fluktuasi suku bunga.
Diversifikasi Mesin Pertumbuhan Lebih dari Sekadar Secangkir Kopi
Masa depan Fore di 2026 tidak lagi hanya bergantung pada kopi, melainkan pada diversifikasi strategis ke sektor makanan seperti donat. Saat ini, kontribusi pendapatan makanan Fore baru mencapai 9%, tertinggal dari rata-rata industri sebesar 20%. Untuk menutup celah ini, Fore menargetkan ekspansi gerai donat hingga 36 unit pada 2026, yang diharapkan akan meningkatkan average transaction value secara keseluruhan. Selain itu, penetrasi ke kota-kota tingkat 2 dan 3 menjadi langkah cerdik karena daerah-daerah tersebut menawarkan biaya sewa dan upah yang lebih rendah, yang pada gilirannya akan mempertebal margin operasional perusahaan dalam jangka panjang.
Realita Valuasi dan Menimbang Risiko di Tengah Harga Premium
Bagi investor, penting untuk melihat valuasi secara objektif dan berimbang. FORE diperdagangkan pada rasio P/E 53,4x pada 2024 dan diprediksi melandai ke 17,9x pada 2026 seiring dengan pertumbuhan laba yang terealisasi. Angka ini mencerminkan optimisme tinggi dari pasar terhadap efisiensi model bisnis Fore. Namun, premi ini didukung oleh imbal hasil ekuitas (ROAE) yang sangat impresif di kisaran 24,3% pada 2026. Meskipun fundamentalnya solid, investor tetap harus mewaspadai risiko seperti saturasi pasar, fluktuasi harga bahan baku, dan tantangan manajemen rantai pasok dalam skala besar. Jika Fore mampu mempertahankan Gross Profit Margin di level 61%, maka pertumbuhan ini akan menjadi fondasi yang kuat bagi keberlanjutan harga sahamnya di lantai bursa.
DISCLAIMER: Analisis ini bersifat edukasi dan informasi semata berdasarkan laporan riset yang tersedia, bukan merupakan rekomendasi jual atau beli untuk instrumen keuangan tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor dengan mempertimbangkan risiko dan profil keuangan masing-masing. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.
Related News
UNVR 2.0, Daftar Pasukan Khusus Unilever Usai Cuci Gudang Aset
Yupi Indo Jelly Gum Dominasi Manis atau Jebakan Valuasi bagi Investor?
Dilema Ekspansi RATU, Dominasi Gas Madura atau Beban Akuisisi?
Misteri Blok Cepu, RATU Investasi Cerdas atau Sekadar Penumpang?
Mengapa Perang AS-Venezuela Gagal Membakar Harga Minyak Dunia?
Empat Pilar CDIA, Strategi Monopoli Infrastruktur Cilegon 2026





