Sektor Komunikasi dan Keuangan Bawa Saham Singapura ke Rekor Baru
:
0
Bursa Saham Singapura. (Foto: Merah Putih)
EmitenNews.com - Indeks bursa saham Singapura mencetak rekor baru sepanjang sejarah pada perdagangan Rabu pagi. Indeks melonjak sebesar 23 poin atau 0,4 persen hingga menyentuh level tertinggi baru 5.640 setelah sempat bergerak stagnan pada sesi perdagangan sebelumnya. Kenaikan pasar hingga menembus rekor baru ini terutama didorong oleh performa kuat pada saham sektor jasa komunikasi, teknologi, serta keuangan.
Berdasarkan data dari Trading Economics, capaian rekor baru indeks saham Singapura ditopang oleh kinerja data ekonomi domestik yang solid, stabilitas politik nasional, serta tingginya daya tarik saham yang membagikan dividen. Lonjakan pada sektor perbankan terbukti mampu mengimbangi sentimen negatif akibat aksi jual saham teknologi yang terjadi secara global.
Saham-saham yang mencatatkan kenaikan tertinggi dalam perdagangan ini antara lain Hongkong Land Holdings yang menguat 3,7 persen, Jardine Matheson naik 2,0 persen, Keppel menguat 1,5 persen, serta City Developments naik 1,3 persen. Sektor perbankan juga turut menyokong indeks melalui penguatan saham OCBC sebesar 1,1 persen, UOB sebesar 0,8 persen, dan DBS sebesar 0,5 persen.
Para pedagang dan pelaku pasar cenderung mengabaikan keputusan pengetatan kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh Monetary Authority of Singapore pada hari Senin. Selain itu, pasar berharap pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dapat meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah di tengah lonjakan harga minyak.
Meskipun mencapai rekor baru, para pelaku pasar tetap bersikap hati-hati menjelang pengumuman keputusan kebijakan moneter dari Bank Sentral Amerika Serikat. Investor juga menantikan rilis data Purchasing Managers Index dari China serta data tingkat pengangguran kuartal kedua Singapura.
Penguatan hingga rekor baru pada bursa saham Singapura ini memberikan cerminan positif bagi kawasan Asia Tenggara, termasuk pasar keuangan Indonesia. Stabilitas dan lonjakan indeks di negara tetangga dapat menjadi sinyal penting bagi investor dalam memantau dinamika arus modal di Bursa Efek Indonesia.(*)
Related News
Indonesia Pacu Manufaktur via BRICS
Harga Rumah Mewah Naik, Rumah Tipe Kecil Melambat
Ini Sebab Banyak Pelaku Usaha Tahan Ekspansi Meski Suku Bunga Turun
SpaceX Melesat 16%, Terbangkan S&P 500 ke Rekor Tertinggi
Minyak Dunia Anjlok 7 Persen Sepekan Akibat Hormuz
Cadangan Devisa RI Stabil USD145,3 Miliar Usai Terbit Bond





