EmitenNews.com - Penguatan IHSG kembali tertahan pada resistance level 7.200 pada perdagangan Jumat (3/6). Bersamaan dengan hal tersebut, IHSG kembali membentuk pola inverted dragonfly doji, serupa dengan pola perdagangan Kamis (2/6). Stochastic RSI mengindikasikan overbought dan positive slope pada MACD mulai menyempit.


"Oleh sebab itu waspadai potensi profit taking pada perdagangan Senin (6/6) ini. Terutama jika IHSG kembali tertahan di level 7.200," pesan analis Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan.

Dari eksternal, U.S. Unemployment Rate diperkirakan turun ke 3.5% di bulan Mei 2022, dari 3.6% pada April 2022. Akan tetapi, U.S. Non Farm Payrolls diperkirakan turun ke 325,000 di Mei 2022 dari 428,000 di April 2022.

"Penurunan tingkat pengangguran memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa kondisi ekonomi AS relatif siap menghadapi pengetatan kebijakan moneter the Fed," jelas Valdy.

Di sisi lain, penurunan Non Farm Payrolls berpotensi memicu kekhawatiran terhadap outlook ekonomi AS di tengah pengetatan tersebut.

Dari dalam negeri, pelaku pasar diperkirakan menantikan data cadangan devisa Indonesia pada Mei 2022. Cadangan devisa diuntungkan oleh tren surplus Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) yang diperkirakan berlanjut di Mei 2022.

Kekuatan cadangan devisa Indonesia terlihat dari penguatan nilai tukar rupiah ke bawah Rp14.500 per USD di Jumat sore (3/6), setelah sempat menyentuh Rp14.730 per USD pada 19 Mei 2022.

Memperhatikan sentimen-sentimen di atas Valdy memperkirakan rotasi masih terus dilakukan oleh pelaku pasar, namun fokus (selective net buy) terlihat pada saham-saham bluechip. Antara lain saham BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, UNTR, ADRO, HRUM, ANTM, AMRT dan UNVR.

Di luar saham-saham tersebut menurutnya saham ASSA, ACES, ADMR, BBKP dan RALS juga dapat diperhatikan.(fj)