Smelter di Sumbawa Beroperasi, AMNT Bidik Produksi Naik 3 Kali Lipat
:
0
Ilustrasi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) mencanangkan target produksi konsentrat tembaga 1,29 juta dry metric ton (DMT) dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Dok. AMNT.
EmitenNews.com - Ditopang oleh beroperasinya fasilitas pemurnian (smelter) tembaga di Sumbawa, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) mencanangkan target produksi konsentrat tembaga 1,29 juta dry metric ton (DMT) dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Itu berarti meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 453,4 ribu DMT.
Dalam keterangannya yang dikutip Kamis (16/7/2026), Presiden Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara, Rachmat Makkasau, mengatakan lonjakan produksi tersebut ditopang oleh beroperasinya smelter tembaga di Sumbawa. Fasilitas pemurnian di Provinsi Nusa Tenggara Barat itu, kini telah mampu mengolah seluruh produksi konsentrat dari tambang.
"Sejak sekitar April 2026 kegiatan operasi telah mulai berjalan dan proses ramp-up berlangsung baik. Sekitar Juni 2026 kami telah mampu memproses seluruh produksi yang dihasilkan oleh tambang saat ini," kata Rachmat Makkasau dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (15/7/2026).
Keberhasilan proses ramp-up tersebut mulai tercermin pada kinerja produksi smelter sepanjang semester I 2026. Hingga kuartal II, AMMAN telah menghasilkan 46 ribu ton katoda tembaga, 3,7 ton emas, dan 14,6 ton perak.
Malah pada kuartal II 2026, perseroan telah mampu memproduksi 46.000 ton katoda tembaga, 3,7 ton emas, dan 14,6 ton perak. Selain itu, terdapat produksi selenium dan asam sulfat.
Smelter AMMAN Juga Menghasilkan 24 DMT Selenium
Bagusnya lagi, selain logam utama tersebut, smelter juga telah menghasilkan 24 DMT selenium dan 421,8 ribu DMT asam sulfat hingga semester I 2026 Dengan capaian tersebut, perseroan optimistis target produksi produk hasil pemurnian hingga akhir tahun dapat tercapai.
Penting diketahui, sepanjang 2026, AMMAN membidik produksi sekitar 162 ribu ton katoda tembaga, 16 ton emas, 45 ton perak, 91 ton selenium, 1,96 ton telurium, serta 572 ribu ton asam sulfat.
Pada sisi hulu, peningkatan produksi konsentrat pada 2026 juga ditopang oleh perkembangan aktivitas penambangan di Tambang Batu Hijau.
Rendahnya produksi pada 2025 merupakan bagian dari siklus penambangan karena perusahaan memfokuskan kegiatan pengupasan lapisan penutup (stripping) pada Fase 8 sehingga volume bijih yang ditambang lebih rendah.
Related News
Telat Keluarkan Laporan Keuangan Juni 2026, NATO Beberkan Alasannya
Saham ELPI Parkir di Zona Hijau, Masa Rights Issue juga Berakhir
Pengendali hingga Manajemen Kompak Borong Saham LFLO
Ini Alasan Win&Co (COCO) Ekspansi ke Vietnam Lewat Akuisisi Momogi
Asing Net Buy Rp1,01 Triliun di Sesi I (16/7) Incar BMRI, BBCA, & TINS
WIFI Raih Penghargaan Dunia Berkat Internet Wi-Fi 7 2 Gbps Rp250 Ribu





