EmitenNews.com - Jika sektor mineral dan teknologi adalah mesin pertumbuhan eksponensial, maka lini infrastruktur, logistik, dan properti adalah jangkar yang menjaga stabilitas keuangan Grup Bakrie di tahun 2026. Pada fase ini, grup tidak lagi hanya bergantung pada siklus harga komoditas yang fluktuatif, melainkan mulai memanen pendapatan berulang (recurring income) dari aset-aset fisik yang strategis. 

Transformasi ini mencerminkan upaya konglomerasi untuk membangun ekosistem yang lebih tangguh terhadap guncangan makroekonomi, dengan mengintegrasikan layanan logistik hulu ke hilir serta reposisi aset properti sebagai instrumen pelindung nilai. Di tengah era suku bunga rendah dan masifnya pembangunan infrastruktur nasional, lini bisnis ini menjadi kunci bagi keberlanjutan arus kas grup dalam jangka panjang.

BNBR Evolusi jadi Raksasa Industri Hijau

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) kini tengah menjalani fase rebranding total, bertransformasi dari perusahaan manufaktur tradisional menjadi perusahaan induk industri berkelanjutan. Kemitraan strategis dengan Envision dari China telah menempatkan BNBR di garda terdepan transisi energi nasional melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga surya terapung dan tenaga angin. 

Langkah ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan strategi cerdas untuk mengamankan kontrak-kontrak energi terbarukan di masa depan. Di sisi lain, penyelesaian dan akuisisi penuh Jalan Tol Cimanggis-Cibitung telah memberikan suntikan pendapatan berulang yang signifikan, menyeimbangkan volatilitas dari divisi manufaktur pipa dan otomotif. Dengan pertumbuhan pendapatan dua digit pada awal 2025, BNBR membuktikan bahwa diversifikasi ke infrastruktur produktif adalah langkah krusial untuk memperkuat struktur neraca holding.

ALII dan ELTY, Sinergi Logistik dan Kebangkitan Aset Properti

Di sektor logistik, PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) memainkan peran vital sebagai tulang punggung rantai pasok energi grup. Sebagai penyedia jasa tongkang dan transportasi laut, kinerja ALII memiliki korelasi linear dengan lonjakan produksi batu bara BUMI yang menembus 81 juta ton. Kontrak jangka panjang ini memberikan visibilitas pendapatan yang sangat jelas, sehingga analis memproyeksikan potensi kenaikan harga saham yang signifikan seiring dengan efisiensi biaya logistik yang terus dioptimalkan. 

Sementara itu, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akhirnya mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan setelah sekian lama tertidur. Penurunan suku bunga BI Rate ke level 4,75% dan dukungan program "3 Juta Rumah" dari pemerintah di tahun 2026 menjadi katalis utama bagi ELTY untuk melakukan unlock value terhadap land bank premiumnya di Rasuna Epicentrum dan Kahuripan Nirwana. Restrukturisasi utang melalui konversi saham telah menyehatkan neraca, memberikan ruang bagi ELTY untuk kembali berkompetisi di pasar properti nasional.

Tantangan Digital jadi Realitas Pahit di Sektor Media

Namun, tidak semua lini bisnis berjalan mulus. Sektor media melalui VIVA dan MDIA masih terjebak dalam pusaran disrupsi digital yang hebat. Meskipun belanja iklan digital nasional meningkat, dominasi platform global dan ketatnya persaingan dari konglomerasi media lain membuat performa saham sektor ini tertinggal jauh dibandingkan unit bisnis energi dan infrastruktur grup. 

Tanpa adanya pivot bisnis yang radikal ke arah konten digital berbayar atau infrastruktur data, aset media ini berisiko menjadi laggard atau beban dalam portofolio grup. Kondisi ini memicu spekulasi pasar mengenai potensi aksi korporasi atau divestasi strategis di tahun 2026 sebagai langkah untuk menutup kewajiban grup atau dialihkan ke sektor lain yang memiliki pertumbuhan lebih tinggi.

Kesimpulannya, investor perlu melihat BNBR, ALII, dan ELTY sebagai pilar stabilitas yang memberikan keseimbangan terhadap profil risiko grup, di mana fokus pada pendapatan berulang dan optimalisasi aset menjadi tema utama. Namun, tetaplah waspada terhadap sektor media (VIVA/MDIA) yang masih membutuhkan restrukturisasi model bisnis mendalam agar tidak menggerus nilai keseluruhan portofolio konglomerasi di masa depan.

Baca Juga BRMS, DEWA, VKTR Transformasi Radikal Grup Bakrie di 2026

Disclaimer: Artikel ini bertujuan untuk edukasi berbasis riset dan bukan merupakan rekomendasi investasi, sehingga segala keputusan serta risiko finansial sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi investor.