EmitenNews.com - Upaya mengoptimalkan keberadaan Bandara Kertajati terus digeber. Pembangunan fasilitas Maintenance, Repair, and Operations (MRO) di Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati dikebut. Upaya PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati itu, langkah strategis untuk memperkuat pendapatan nonpenumpang.

Kepada pers, Direktur Utama BIJB Kertajati Ronald H Sinaga mengatakan, fasilitas perawatan pesawat ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026. Realisasinya diawali dengan pembangunan hangar helikopter. Tahap awal MRO dilakukan melalui skema Kerja Sama Operasional (KSO) dengan Garuda Maintenance Facility (GMF).  

"Tahap pertama bangun untuk helikopter dulu. Ground breaking operasional sudah dilakukan 8 Desember 2025, rencana pembangunan fisiknya dimulai awal-awal tahun 2026," kata Ronald H. Sinaga di kantornya di Gedung DPMPTSP Jawa Barat, Jalan Windu, Kota Bandung, Rabu (14/1/2026). 

Proses pembangunan hangar diperkirakan memakan waktu sekitar delapan bulan. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, fasilitas MRO helikopter dapat mulai melayani perbaikan pesawat pada Oktober 2026. 

"Kita bisa harapkan bulan-bulan Oktober itu sudah beroperasi. Berarti helikopter sudah bisa diperbaiki di sini," ujarnya. 

Dalam kerja sama ini, BIJB menyiapkan lahan kawasan Aerospace Park, sedangkan GMF bertindak sebagai pengelola sekaligus anchor tenant. GMF juga akan merelokasi fasilitas perbaikan helikopter ke Bandara Kertajati, Kabupaten Majalengka. 

"Lahan punya BIJB, tapi untuk mengelola kawasan itu kita berdua. Nanti GMF tinggal merelokasi alat-alat dan fasilitas perbaikan helikopter yang sudah ada," urai Ronald. Pengembangan MRO dinilai menjadi kunci bagi BIJB untuk mencapai kemandirian finansial. Mengingat mulai 2027 BIJB tidak lagi menerima suntikan modal dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sehingga pendapatan dari bisnis non-aeronautika harus menjadi penopang utama. 

"Pada 2027 kami tidak dapat suntikan modal lagi. Harus bisa mandiri. Target pendapatan kita 10 tahun dari sekarang, dengan menyewakan lahan saja kalau penuh, itu bisa mencapai Rp1 triliun," katanya. 

Lahan Aerospace Park Kertajati yang disiapkan seluas 84 hektare. Selain MRO helikopter, kawasan ini akan dikembangkan untuk MRO pesawat sayap tetap (fixed wing) pada tahap berikutnya. 

Sesuai rencana, keberadaan MRO di lahan Bandara Kertajati akan menyerap tenaga kerja diperkirakan mencapai 2.000 sampai 3.000 orang. Nantinya bukan hanya bengkel pesawat, tapi ekosistem lengkap. Ada pendidikan vokasi, pelatihan, manufaktur, sampai lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

Pertumbuhan armada pesawat nasional yang diproyeksikan meningkat hampir dua kali lipat dalam 10 tahun ke depan, sehingga membuka peluang besar bagi penguatan layanan MRO di dalam negeri. Dari 614 unit pesawat pada 2024 menjadi 1.017 unit pada 2033. Hal tersebut akan membuka peluang penguatan kemandirian layanan MRO di dalam negeri. 

Dengan beroperasinya MRO pada 2026 dan proyeksi pendapatan jangka panjang hingga Rp1 triliun, BIJB menempatkan pengembangan Aerospace Park sebagai tulang punggung masa depan bisnis Bandara Kertajati. 

Pemprov Jabar pastikan tetap alokasikan Rp100 miliar untuk Bandara Kertajati

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan penyertaan modal sebesar Rp100 miliar untuk Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati tetap dialokasikan pada 2026. Langkah ini diambil setelah evaluasi kinerja dan prospek pengembangan bandara, sembari Pemprov menyiapkan skema pelepasan saham mayoritas kepada pemerintah pusat. 

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar, Dedi Mulyadi menjelaskan, pelimpahan kepemilikan saham dari provinsi ke pusat salah satu alternatif untuk mempercepat pengembangan BIJB Kertajati. 

"Pak Gubernur kemudian berpikir, saham yang dimiliki oleh provinsi di Kertajati yang dominan itu dilepas ke pusat," kata Dedi Mulyadi, Selasa (13/1/2026). 

Selanjutnya, Pemprov Jabar menyiapkan skema tukar saham antara Bandara Kertajati dengan Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung.