EmitenNews.com - Astra International (ASII) sepanjang 2025 mengemas laba bersih Rp32,8 triliun. Turun tipis 3 persen dibanding edisi sama akhir 2024 senilai Rp33,9 triliun. Laba bersih per saham susut 3 persen menjadi Rp810 dari sebelumnya Rp837.

Pendapatan bersih konsolidasian grup pada 2025 sebesar Rp323,4 triliun, susut 2 persen dari episode sama tahun 2024 sejumlah Rp328,48 triliun. Itu terutama disebabkan penurunan kontribusi bisnis jasa penambangan, dan pertambangan batu bara serta bisnis mobil baru. 

Untungnya, diimbangi kinerja positif bisnis pertambangan emas, jasa keuangan, dan bisnis sepeda motor. Raihan laba bersih grup itu, disumbang otomotif & mobilitas Rp11,36 triliun, turun tipis dari Rp11,4 triliun. Jasa keuangan berkontribusi Rp8,95 triliun, naik 9 persen dari Rp8,2 triliun. 

Alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi anjlok 24 persen menjadi Rp9,09 triliun dari Rp11,99 triliun. Agribisnis melonjak 28 persen menjadi Rp1,17 triliun dari Rp914 miliar. Infrastruktur Rp1,25 triliun, melejit 24 persen dari edisi akhir tahun sebelumnya Rp1,01 triliun.

Teknologi informasi berkontribusi Rp208 miliar, melambung 33 persen dari periode akhir tahun 2024 senilai Rp156 triliun. Divisi bisnis Astra tampil donimnan dengan menyumbang laba bersih Rp719 miliar, melangit 224 persen dari episode sama akhir 2024 sebesar Rp222 miliar. 

Nilai aset bersih per saham pada 31 Desember 2025 naik sebesar 8 persen menjadi Rp5.692. Kas bersih, tidak termasuk anak usaha jasa keuangan grup Rp7,2 triliun, turun dibanding akhir 2024 sebesar Rp8,0 triliun. Utang bersih anak usaha jasa keuangan grup Rp64,9 triliun, meningkat dari Rp60,2 triliun.

“Pada tahun 2025, laba grup mengalami koreksi terutama disebabkan oleh harga batu bara lebih rendah, dan pasar mobil baru lesu. Namun, kinerja bisnis grup tetap resilien didukung oleh kontribusi positif dari bisnis-bisnis lainnya,” tutur Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur Astra International.

Meski kondisi operasional beberapa bisnis masih tetap menantang, Astra memprediksi sentimen konsumen secara keseluruhan membaik. Astra tetap fokus pada keunggulan operasional, dan alokasi modal disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca kuat untuk mendukung penciptaan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan. (*)