EmitenNews.com - Berakhir sudah surplus perdagangan Indonesia yang diukir sejak Mei 2020. Setelah bertahan selama 72 bulan beruntun, pada Mei 2026, neraca ekspor impor Indonesia defisit USD1,61 miliar. Lihatlah. Nilai ekspor hanya USD23,20 miliar, sedangkan impor menyentuh angka USD24,81 miliar.

Dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2027), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik, Ateng Hartono mengemukakan secara kumulatif neraca perdagangan periode Januari-Mei 2026 masih mampu surplus USD4,03 miliar, meski turun dalam, dibanding periode yang sama tahun lalu USD15,38 miliar.

Ateng menyebutkan, dalam lima bulan pertama 2026, komoditas utama yang menyumbang defisit neraca perdagangan ialah mesin dan peralatan mekanis (HS 84) dengan nilai minus USD12,74 miliar.

Kemudian, diikuti oleh komoditas mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) dengan minus USD6,23 miliar. Lalu, berturut-turut plastik dan barang dari plastik (HS 39) minus USD3,74 miliar, serelia (HS 10) tekor USD1,62 miliar, dan kendaraan udara serta bagiannya (HS 88) minus USD1,56 miliar.

Komoditas utama yang justru menyumbang surplus neraca perdagangan selama periode Januari-Mei 2026 adalah lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) sebesar USD13,92 miliar, serta bahan bakar mineral (HS 27) senilai USD10,88 miliar.

Adapun besi dan baja (HS 72) mengalami surplus sebesar USD7,09 miliar, diikuti oleh komoditas nikel dan barang daripadanya (HS 75) yang masih surplus USD5,36 miliar, beserta alas kaki (HS 64) dengan nilai USD2,72 miliar.

Sementara itu, BPS mencatat impor Indonesia Mei 2026 mencapai USD24,81 miliar, naik 22,16% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan Mei 2025. Impor migas sepanjang Mei 2026 mencapai USD4,51 miliar atau naik 70,78% secara tahunan. Sementara itu, impor nonmigas USD20,30 miliar atau naik 14,69%.

"Impor tahunan didorong impor nonmigas dengan andil 12,95%," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, Rabu (1/7/2026).

Mengutip data BPS, Ateng mengatakan impor menurut penggunaan Mei 2026, seluruh golongan meningkat secara tahunan. "Barang konsumsi naik 21,99%, bahan baku penolong naik 25,17% dengan andil 17,41%, dan impor barang modal naik 12,70%."

Secara kumulatif, BPS mencatat nilai impor Indonesia Januari-Mei 2026 mencapai USD111,33 miliar, naik 15,24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.