Target Realisasi Investasi 2027 Rp2.322T, Menteri Rosan Pastikan Ini
:
0
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani. Dok. SWA.
EmitenNews.com - Target realisasi investasi pemerintah pada 2027 meningkat. Tahun 2026 sebesar Rp2.041 triliun menjadi Rp2.322 triliun pada tahun depan. Target tersebut bagian dari kebutuhan investasi sebesar Rp13.032 triliun sepanjang 2025–2029, atau sekitar 143 persen dari capaian investasi selama sepuluh tahun terakhir.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan hal tersebut dalam keterangannya yang dikutip Ahad (16/8/2026).
Rosan menyebutkan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2027 berada pada kisaran 5,8–6,5 persen. Sejalan dengan sasaran tersebut, realisasi investasi pada 2027 ditargetkan mencapai Rp2.322,0 triliun, meningkat dari target 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
Bos Danantara Indonesia itu memastikan, investasi tersebut bukan merupakan belanja negara, melainkan penanaman modal oleh badan usaha, baik dalam negeri maupun asing. Sasarannya, untuk meningkatkan kapasitas perekonomian nasional.
Data yang ada menunjukkan, pada Semester I 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun, atau 29,7 persen dari total investasi nasional. Terjadi pertumbuhan 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Diketahui investasi hilirisasi tersebut didominasi sektor mineral sebesar Rp206,5 triliun, yang mencakup nikel Rp71,0 triliun, bauksit Rp53,8 triliun, tembaga Rp37,4 triliun, besi baja Rp30,2 triliun, serta pasir silika Rp5,9 triliun.
Kemudian, selain mineral, investasi hilirisasi juga mencakup sektor perkebunan dan kehutanan sebesar Rp54,4 triliun, minyak dan gas bumi Rp35,4 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp3,8 triliun. Sebanyak 75,7 persen investasi hilirisasi berada di luar Jawa, terutama di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.
Masih kata Rosan, hilirisasi dari tahun ke tahun memerankan peranan yang sangat penting. Intinya berkontribusi 29,7 persen, masih didominasi oleh hilirisasi mineral. Ke depan, pemerintah mendorong hilirisasi di sektor perkebunan, kehutanan, minyak dan gas bumi.
“Jika investasi di sektor perkebunan dan kehutanan penyerapan tenaga kerjanya lebih besar, walaupun dari segi nominal investasinya lebih kecil dibanding investasi di sektor mineral,” ujar mantan Ketua Umum Kadin Indonesia itu.
Pemerintah akan terus memperluas hilirisasi ke komoditas bernilai tambah tinggi lainnya, antara lain semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa, dan rumput laut.
Related News
Memasuki Semester II–2026, Ekonomi RI Dihadapkan Dua Sinyal Pelemahan
Buruan, Hari Ini 81.000 Konsumen Beli BBM Dapat Diskon
Hadapi Dinamika Global, BRICS Dorong Penguatan Fondasi Resiliensi
Danantara Buktikan Kinerja, Nada Optimisme Mengemuka
Kejar Aturan Bursa Mineral Beroperasi 1 Januari 2027, Ini Langkah OJK
Pertengahan Agustus Ini, Pertamina Turunkan Harga LPG 5,5 dan 12 Kg





