EmitenNews.com - Pemerintah bertekad mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Dari situ dirancang proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Tetapi, tak mudah mengembangkan substitusi LPG, yang dimulai PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) di Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatera Selatan itu. Perbedaan jenis gas menjadi faktor utama Indonesia masih harus mengimpor LPG.

Dalam keterangannya yang dikutip Ahad (3/5/2026), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan salah satu latar belakang utama pengembangan DME adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Tetapi, ternyata tidak mudah. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, adanya sejumlah tantangan dalam merealisasikan proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) itu. Perbedaan jenis gas menjadi faktor utama mengapa Indonesia masih harus mengimpor LPG, meskipun memiliki cadangan gas yang besar.

"Saya sempat nanya kenapa ini LPG kita impor gas kita kan banyak? Ternyata C3, C4 itu berbeda dengan kebanyakan gas kita, gas kita itu C1, C2. C3, C4 ini kecil. Karena itu, kita membangun industri dalam negerinya kecil," kata Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, Sabtu (2/4/2026).

Sebagai gantinya, pemerintah mendorong pengembangan DME yang dihasilkan dari hilirisasi batu bara berkalori rendah. Produk ini dirancang sebagai substitusi LPG, terutama untuk kebutuhan rumah tangga.

Satu hal lagi, meski memiliki manfaat besar, Bahlil mengakui bahwa perjalanan proyek DME tidaklah mudah. Ia menyebut banyak pihak yang sempat menentang atau menghambat realisasi proyek tersebut.

Proyek tersebut sebenarnya sudah sempat dilakukan peletakan batu pertama pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Saat itu, Bahlil tercatat masih menjabat sebagai Menteri Investasi. Sayangnya, meski ground breaking sudah di era Jokowi, tetapi proyek itu terhenti di tengah jalan.

"Waktu itu belum jadi ketum partai soalnya. Jadi masih bisa di-intercept. Belum jadi ketum partai tapi kalau sekarang jangan coba-coba intercept. Saya kasih tahu memang. Orang Maluku bilang adek pele putus melintang patah. Ah itu," ujar Ketua Umum Partai Golkar itu dalam nada bercanda. ***