EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) memasung perdagangan efek 32 emiten. Suspensi perdagangan efek di pasar reguler dan tunai itu, efektif sejak 1 Maret 2023. Pasalnya, emiten-emiten itu belum menyampaikan laporan keuangan interim per 30 September 2022.
”Faktanya, hingga 28 Februari 2023, belum melansir laporan keuangan interim per 30 September 2022 da?/atau belum melakukan pembayaran Denda atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan tersebut,” tulis Adi Pratomo, Kadiv Penilaian Perusahaan 1 BEI.
Emiten-emiten bandel itu antara lain Armidian Karyatama (ARMY), Bukit Uluwatu (BUVA), Cowell Development (COWL), Jaya Bersama Indo (DUCK), Envy Technologies (ENVY), Forza Land (FORZ), Golden Plantation (GOLL), Hotel Mandarine (HOME), Saraswati Griya (HOTL).
Sky Energy (JSKY), Kertas Basuki Rachmat (KBRI), Steadfast Marine (KPAL), Cottonindo (KPAS), Grand Kartech (KRAH), dan Eureka Prima (LCGP), Marga Abhinaya (MABA), Limas Prima (LMAS), Multi Agro (MAGP), Mitra Pemuda (MTRA), Hanson International (MYRX), Nipress (NIPS).
Sinergi Megah (NUSA), Polaris Investama (PLAS), Trinitan Metals (PURE), Rimo Lestari (RIMO), Siwani Makmur (SIMA), Northcliff Indonesia (SKYB), Sugih Energy (SUGI), Tridomain (TDPM), Trada Alam Minera (TRAM), Triwira Insanlestari (TRIL), dan Nusantara Inti Corpora (UNIT). (*)
Related News
Data BI, Volume Transaksi QRIS 12,55 Miliar, Tumbuh 100,12 Persen
Daftar 53 Saham HSC, Terbaru Ada AGAR-ALKA
Bersihkan SLIK OJK Kini Cuma 3 Hari Kerja, Ini Aturannya
OJK Terbitkan POJK 6/2026, Finfluencer Saham Dipelototi
Siap-Siap, Saham Tak Penuhi Free Float 15% Akan Ditandai BEI
BEI Resmikan 14 Notasi Khusus Baru untuk Tanggulangi Emiten Bermasalah





