Tetaplah Prihatin, Meski Ekonomi Sudah Alami Pembalikan Kondisinya Masih Sangat Rapuh
EmitenNews.com – Tetaplah prihatin, meski ekonomi di negara-negara G20, termasuk Indonesia sudah mengalami pembalikan. Pasalnya, kondisinya masih sangat rapuh. Jauh dari titik normal. Pandemi virus corona penyebab coronavirus disease 2019 (covid-19) membawa Indonesia dalam jurang resesi ekonomi. Karena itu pemerintah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini minus 0,6 persen hingga 1,7 persen. "Meskipun pada kuartal ketiga banyak perekonomian di negara G20 sudah menunjukkan adanya pembalikan, namun itu masih sangat awal dan masih sangat rapuh," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers virtual usai pelaksanaan KTT G20, Minggu (22/11/2020). Oleh karena itu, semua negara perlu melangkah bersama untuk menangani Covid-19 dan mengendalikan perekonomian. Kebijakan-kebijakan yang mendukung pemulihan ekonomi harus terus dilakukan. Kebijakan tidak bisa ditarik atau dihentikan terlalu dini. Artinya urai Sri Mulyani, kebijakan fiskal, moneter, dan regulasi sektor keuangan harus tetap dijalankan sampai ekonomi betul-betul pulih secara kuat. Dalam KTT juga membahas mengenai pembiayaan vaksin Covid-19 dan bagaimana caranya agar negara berkembang turut mendapat akses vaksin. Untuk mendapat akses vaksin, peranan lembaga-lembaga multilateral menjadi kunci. Mereka harus mendukung pendanaan bagi negara-negara berkembang atau negara miskin untuk mendapatkan vaksin. "Akses vaksin ini penting karena tidak akan ada pemulihan ekonomi di seluruh dunia sampai seluruh negara mendapatkan akses vaksin tersebut," kata Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Seperti diketahui pandemi covid-19 telah membawa Indonesia dalam jurang resesi ekonomi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini minus 0,6 persen hingga 1,7 persen. Proyeksi ini lebih parah dari sebelumnya yang mematok PDB minus 0,2 persen hingga 1,1 persen. Dalam paparan APBN Kita, Selasa (22/9/2020), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengemukakan pertumbuhan negatif itu kemungkinan terjadi pada kuartal ketiga dan berlangsung pada kuartal keempat yang masih diupayakan pertumbuhannya mendekati nol. Untuk 2021 pertumbuhan ekonomi ditargetkan 4,5 persen-5,5 persen. Target ini lebih rendah dari proyeksi institusi asing yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa menyentuh 6 persen. Dengan kondisi pertumbuhan ekonomi yang minus pada Kuartal III tahun 2020, dipastikan Indonesia akan menghadapi resesi setelah pertumbuhan negatif pada Kuartal II. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suharyanto mengatakan BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2020 mengalami kontraksi atau minus 5,32 persen. ***
Related News
Mesin Uang Pakuwon, PWON Stabil karena Sewa atau Nilai Kurs?
Adu Raksasa Properti, Mengapa Laba CTRA Melesat Saat BSDE Tertekan?
Laba BSDE Melorot Drastis, Mengapa Hidden Value Ini Tetap Menggiurkan?
Ambisi Hijau ADMR, Mesin Pertumbuhan atau Jebakan Belanja Modal?
Ilusi Laba AADI dan Tali Pusar Keuangan yang Belum Putus
Metamorfosis ADRO dan Teka-Teki Panen Kas di Balik Dividen Jumbo





