The Social Reckoning (1): Saat Algoritma Memecah Belah Masyarakat
:
0
Di balik layar yang kita sentuh setiap saat, ada sistem dan mesin yang bekerja senyap yang ikut menentukan informasi apa yang memperoleh perhatian dan beredar.
EmitenNews.com - Ojo gumunan (jangan heran), ojo kagetan (jangan kaget), ojo dumeh (jangan jumawa). Pitutur Jawa ini terasa semakin relevan di zaman ketika jempol bisa bergerak lebih cepat daripada pikiran. Sebuah konten viral, kita ikut berkomentar. Melihat ribuan like, kita menganggapnya penting. Menemukan unggahan yang dibagikan berkali-kali, kita tergoda menganggapnya benar.
Film The Social Reckoning dibuka dengan adegan sebuah mobil SUV yang berhenti d tepi jalan raya. Di belakang berdiri perempuan yang asyik main HP. Sesaat kemudian datang 2 polisi bermaksud menolong warga California itu. Tapi alih-alih kooperatif, perempuan ini malah cenderung cuek bak orang mabuk. Singkat cerita perempuan ini tidak mau ditolong bahkan mengusir secara halus. Kedua polisi makin curiga dan bermaksud memeriksa apakah perempuan ini mabuk atau tidak dengan alat pengukur kadar alkohol dalam darah. Niat pemeriksaan ini lah yang kemudian memicu percekcokan mulut. Dan adegan ini direkam dan di upload di facebook, tentu dengan narasi yang sama sekali berbeda dengan realita sebenarnya dan menjadi viral.
Padahal, metrik digital tidak selalu mencerminkan kebenaran. Reach mengukur jangkauan, impressions menghitung jumlah penayangan, sedangkan engagement merekam interaksi pengguna. Tidak satu pun dengan sendirinya membuktikan bahwa informasi akurat atau membawa manfaat bagi publik. Di balik angka-angka tersebut, ada algoritma yang menentukan bagaimana konten didistribusikan dan direkomendasikan.Di titik inilah The Social Reckoning menjadi menarik. Film karya Aaron Sorkin ini mengajak kita melihat kembali hubungan antara teknologi, kepentingan bisnis, dan perilaku manusia. Di balik layar yang kita sentuh setiap hari, ada sistem dan mesin yang bekerja dalam senyap yang ikut menentukan informasi apa yang memperoleh perhatian dan bagaimana informasi itu beredar.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita yang mengendalikan jempol, atau justru jempol yang perlahan mengendalikan cara kita berpikir?
Dari Kelahiran Facebook Menuju Pertanggungjawaban Sosial
The Social Reckoning, yang mulai tayang di Indonesia pada 9 Oktober 2026, berdurasi 112 menit dan berangkat dari pengungkapan dokumen internal Facebook oleh Frances Haugen, mantan pegawai perusahaan tersebut, bersama jurnalis The Wall Street Journal, Jeff Horwitz. Haugen diperankan Mikey Madison, Horwitz oleh Jeremy Allen White, sedangkan Jeremy Strong memerankan Mark Zuckerberg.Kisahnya berangkat dari pengungkapan yang dikenal sebagai The Facebook Files pada 2021. Dokumen internal yang dibocorkan Haugen memicu perdebatan mengenai moderasi konten, dampak Instagram terhadap remaja, penyebaran informasi bermasalah, dan tanggung jawab sosial perusahaan platform.
Yang membuat film ini relevan dengan kehidupan kita bukan semata-mata kisah seorang pembocor informasi yang berhadapan dengan raksasa teknologi. Pertanyaan yang lebih besar adalah bagaimana sebuah perusahaan yang dibangun dengan janji menghubungkan manusia dapat berkembang menjadi infrastruktur komunikasi yang ikut memengaruhi cara masyarakat memahami dunia, membentuk opini, dan memperlakukan orang yang berbeda pandangan.
Ada benang merah yang menarik antara The Social Reckoning dan The Social Network (2010). Kedua film ditulis oleh Aaron Sorkin. Namun, jika film pertama disutradarai David Fincher dan menggambarkan ambisi, konflik, serta perebutan kekuasaan di balik kelahiran Facebook, film kedua menggeser perhatian ke konsekuensi sosial dari pertumbuhan platform tersebut.
The Social Network membawa penonton ke dunia inovasi, persaingan, dan ambisi membangun perusahaan teknologi. Enam belas tahun kemudian, pertanyaan yang diajukan Sorkin bergerak ke tahap berbeda: apa yang terjadi setelah platform tersebut menjadi begitu besar sehingga keputusan bisnis dan teknologinya dapat berdampak jauh melampaui perusahaan itu sendiri?
Kedua film ini terasa seperti dua babak dalam percakapan panjang tentang teknologi dan manusia. Babak pertama menyoroti bagaimana kekuasaan digital dibangun. Babak berikutnya mempertanyakan bagaimana kekuasaan tersebut dijalankan dan siapa yang harus bertanggung jawab ketika dampaknya merugikan masyarakat.
Perubahan fokus itu membuat The Social Reckoning lebih tepat dibaca sebagai film pendamping atau companion piece yang berkaitan erat dengan film sebelumnya, tetapi menyoroti fase dan persoalan berbeda.Tentu, film bukan dokumen hukum atau laporan investigasi. Ia menyusun tokoh, dialog, dan peristiwa menjadi narasi dramatis. Karena itu, penggambaran tokoh nyata maupun konflik korporasi perlu dibaca dengan membedakan fakta yang terdokumentasi dan dramatisasi yang dipilih pembuat film.
Seberapa Besar Kesuksesan Film Social Media?
Secara komersial, The Social Network memiliki rekam jejak yang jelas. Data Box Office Mojo mencatat pendapatan box office global sebesar US$224,93 juta, dengan anggaran produksi yang dilaporkan sebesar US$40 juta. Pendapatan tiket globalnya setara sekitar 5,6 kali anggaran produksi, sebelum memperhitungkan biaya pemasaran, distribusi, dan pembagian pendapatan bioskop.
Film tersebut juga meraih tiga Oscar pada 2011: Skenario Adaptasi Terbaik untuk Aaron Sorkin, Musik Orisinal Terbaik untuk Trent Reznor dan Atticus Ross, serta Penyuntingan Film Terbaik untuk Angus Wall dan Kirk Baxter. Bagaimana dengan The Social Reckoning? Pada pemeriksaan data 9 Oktober 2026, The Numbers telah mencatat pendapatan domestik awal sebesar US$650.000. Namun, angka tersebut masih sangat dini dan belum dapat dianggap sebagai hasil akhir box office. Data awal ini juga belum cukup untuk menyimpulkan keberhasilan komersial film tersebut.
Ketika Perhatian Menjadi Komoditas Raksasa
Salah satu persoalan utama yang dibawa The Social Reckoning adalah bagaimana sistem rekomendasi dan model bisnis platform digital dapat memengaruhi informasi yang dikonsumsi pengguna.Platform media sosial tidak hanya menyediakan ruang untuk mengunggah konten. Sistemnya juga mengatur urutan dan rekomendasi berbagai materi berdasarkan sinyal yang berbeda-beda, seperti interaksi pengguna, hubungan sosial, dan karakteristik konten.
Related News
Pimpin Transformasi GIAA, ini Rekam Jejak Thomas Oentoro
BYD Atto 1 Generasi ke-2 Sudah Bisa Dipesan dengan Rp 5 Juta
Porsche PHK 30% Karyawan, Kurangi Model, Fokus ke Mobil Bensin
Cara Hemat Belanja Promo Tanggal Kembar ala ARTO
Suzuki Luncurkan EV Mini Pertama, Jangkauan 300 KM Rp100 Jutaan
Menilik dari Dekat Budaya Jepang via Think Japan, Think Sompo!





