EmitenNews.com - Pada perdagangan terakhir, Senin (31/8), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik tipis 0,11 persen ke level 6.525. Kendati menguat, terdapat saham-saham yang justru tersengat aksi jual investor.

Salah satunya PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang paling banyak terkena aksi jual asing dengan net sell hingga Rp681,76 miliar dari volume jual 228,42 juta saham.

Di sisi lain, CPIN juga menjadi salah satu saham yang terkena efek rebalancing oleh MSCI, penyedia indeks global. Meski demikian, CPIN hanya turun kasta dari indeks utama MSCI ke indkes MSCI Global Small Cap.

Kendati begitu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta menilai situasi CPIN cenderung lebih konstruktif dibandingkan emiten lain yang juga didepak dari indeks utama MSCI.

Meski tetap berpotensi mengalami passive outflow dan menekan harga dalam jangka pendek, berkat fundamental bisnis yang kuat, CPIN masih dapat diperhitungkan sebagai instrumen investasi.

"CPIN masih memiliki fundamental yang relatif kuat karena ditopang oleh bisnis poultry yang terintegrasi, posisi pasar yang kuat, potensi perbaikan margin apabila harga jual ayam dan DOC lebih sehat, efisiensi biaya pakan, serta potensi pemulihan daya domestik," ujar Nafan kepada EmitenNews, (13/8).

Pada perdagangan kemarin, Senin (31/8) saham CPIN ditutup melemah 2,61 persen atau -80 poin ke level 2.980. Pelemahan itu beriringan dengan berlakunya hasil review indeks MSCI dan akan efektif mulai perdagangan hari ini, Selasa (1/9).

Kinerja di Semester I 2026

Meski tersengat rebalancing MSCI, secara kinerja di semester I 2026 CPIN membukukan laba bersih Rp3,70 triliun. Jumlah itu melonjak 94,74 persen dibandingkan episode sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,90 triliun.

Torehan itu ditopang raihan pendapatan CPIN sebesar Rp39,41 triliun, meningkat 19,21 persen dari tahun lalu sebesar Rp33,06 triliun.