Tok! Tweet Pertama CEO Twitter Terjual Senilai 41,8 Miliar Rupiah
EmitenNews.com - Cuitan pertama "just setting up my twttr" milik Jack Dorsey, CEO Twitter pada 22 Maret 2006 berhasil terjual dalam bentuk non-fungible token (NFT) seharga 2,9 miliar US Dolar atau sekitar 41,8 miliar rupiah 15 tahun kemudian.
Cameron Hejazi, CEO Cent yang mengelola platform lelang bernama Valuables mengonfirmasi pembeli tweet tersebut adalah Sina Estavi, CEO dari perusahaan mata uang krypto bernama Bridge Oracle.
Melansir Reuters, Estavi mengatakan bahwa dia "berterima kasih" ketika dimintai komentar tentang pembelian tersebut. “Ini bukan hanya tweet! Saya pikir bertahun-tahun kemudian orang akan menyadari nilai sebenarnya dari tweet ini, seperti lukisan Mona Lisa,” ungkapnya di akun Twitter miliknya @sinaEstavi.
Sementara Dorsey telah mengirimkan dana hasil penjualannya kepada sebuah yayasan amal, Give Directly untuk orang-orang yang terdampak COVID-19 di Afrika dan mengucapkan terima kasih kepada Sina Estavi.
"Dikirim ke @GiveDirectly Africa fund, terima kasih, @sinaEstavi,” ujar Dorsey di akun Twitternya @jack pada Selasa (23/3) dini hari.
Pada 6 Maret, Dorsey, yang merupakan penggemar bitcoin, men-tweet tautan ke situs web tempat NFT terdaftar untuk dijual.
Kemudian dirinya mengatakan dalam tweet lain pada 9 Maret bahwa dia akan mengubah hasil lelang menjadi bitcoin dan menyumbangkannya kepada orang-orang yang terkena dampak COVID-19 di Afrika.
Dorsey menerima 95% dari hasil penjualan utama, sementara Cent menerima 5%. Sementara Hejazi mengatakan bahwa platformnya memungkinkan orang untuk menunjukkan dukungan untuk tweet yang melampaui opsi saat ini untuk menyukai, berkomentar, dan me-retweet.
“Aset-aset ini mungkin naik nilainya, mungkin nilainya turun, tapi yang akan bertahan adalah buku besar dan sejarah 'Saya membeli ini dari anda (penjual) pada saat ini' dan itu akan terjadi pada pembeli, penjual dan ingatan penonton publik, "kata CEO Cent.
Setiap NFT memiliki tanda tangan digital berbasis blockchain sendiri, yang berfungsi sebagai buku besar publik,memungkinkan siapa saja untuk memverifikasi keaslian dan kepemilikan aset. (LW)
Related News
Passage to Hiliwatu, Ubud, Bali
Sempat Hancur Pada PD II, RDMP Balikpapan Kini Jadi Garda Depan Energi
Tahun 2026, Target Pemkot Malang Jaring Wisatawan 3,4 Juta Orang
Kian Diminati, Pelanggan Kereta Panoramic Tumbuh 38,6 Persen di 2025
Ternyata Bukan Real Madrid Klub Olahraga Termahal versi Forbes
Shinta Obong! Flexing Kesucian di Api Penuh Aesthetic Candi Prambanan





