TOWR Rambah Bisnis Fiber Optik, Klien XL dan Indosat Jadi Kunci
:
0
TOWR Rambah Bisnis Fiber Optik, Klien XL dan Indosat Jadi Kunci. Dok. EmitenNews
EmitenNews.com - Industri menara telekomunikasi seringkali dinilai sudah mendekati titik jenuh. Namun, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) justru memperlihatkan manuver yang menarik pada paruh pertama tahun 2026. Di tengah ketatnya margin bisnis, emiten menara Grup Djarum ini tidak hanya sukses mencetak kenaikan laba bersih lewat strategi putar otak menekan beban bunga utang, tetapi juga mulai memasang kuda-kuda baru. Dengan bersandar pada kepastian aliran kas dari pesatnya ekspansi jaringan raksasa seluler, khususnya XL dan Indosat—TOWR kini memiliki pijakan finansial yang kuat untuk melangkah keluar dari zona nyamannya dan berekspansi ke bisnis masa depan: jaringan kabel serat optik.
Pundi-Pundi Pendapatan dan Tantangan Biaya Operasional
Pada paruh pertama tahun 2026, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) menunjukkan laju pertumbuhan bisnis yang cukup meyakinkan. Selama enam bulan pertama, perusahaan sukses mengantongi pendapatan sebesar Rp7,20 triliun. Angka ini menandakan adanya kenaikan omzet sebesar 12,69 persen jika disandingkan dengan perolehan pada periode yang sama di tahun 2025 yang berada di angka Rp6,39 triliun.
Meskipun keran pendapatan mengalir makin deras, keuntungan dari bisnis inti atau laba operasional perusahaan hanya tumbuh tipis 2,52 persen menjadi Rp3,70 triliun dari sebelumnya Rp3,61 triliun. Laju laba operasional yang sedikit tertahan ini sangat masuk akal, mengingat perusahaan harus menghadapi lonjakan tagihan pada pos beban pokok pendapatan lainnya yang meroket tajam hingga 92,78 persen menjadi Rp971,74 miliar, ditambah lagi dengan adanya kenaikan beban penyusutan dan amortisasi aset sebesar 6,01 persen.
Pergeseran Mesin Uang: Layanan Non-Menara Unjuk Gigi
Di balik angka pendapatan total yang naik belasan persen tersebut, tersimpan fakta menarik tentang bergesernya mesin pencetak uang perseroan. Pendapatan murni dari penyewaan menara sejatinya justru sedikit menyusut 3,3 persen menjadi Rp4,11 triliun dari periode sebelumnya Rp4,25 triliun.
Penurunan tipis ini murni merupakan imbas dari penyesuaian harga sewa (repricing) dengan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk menyusul aksi merger antara XL Axiata dan Smartfren. Kabar baiknya, nilai kontrak secara keseluruhan justru meningkat berkat pembaruan syarat kerja sama tanpa adanya klien yang mencabut sewa menaranya.
Ketika mesin menara sedikit tertahan, lini bisnis non-menaralah yang menjadi motor utama pertumbuhan. Segmen konektivitas mencatat lompatan paling kuat sebesar 33,8 persen menjadi Rp874 miliar (naik dari Rp654 miliar) seiring membeludaknya permintaan kapasitas bandwidth internet dari pelanggan korporasi.
Lebih ekstrem lagi, pendapatan dari bisnis pendukung lainnya meroket tajam lebih dari seratus persen, melompat dari sekadar Rp76 miliar menjadi Rp766 miliar. Lonjakan fantastis ini didorong oleh konsolidasi pendapatan pasca-perubahan status pengendalian di PT Bach Multi Global pada awal tahun 2026.
Taktik Jitu Pangkas Bunga Pinjaman Jadi Penyelamat
Related News
5 Saham RI Didepak Indeks Syariah FTSE, Aliran Modal Pindah ke Nvidia
Emiten Operator Bus Tije Dicap HSC, Digembok BEI, Kena Notasi C Pula
Bisnis Sewa Genset Meroket 1.574%, Begini Rapor Perdana BACH Pasca-IPO
Adu Taktik 4 Big Banks, Siapa Paling Jago Cetak Cuan?
Lonjakan Pendapatan BNBR 45% Belum Cukup Lepas dari Tekanan Rugi
Penjualan EV VKTR Naik 1.777%, Mitsubishi Fuso Berkontribusi Besar





