EmitenNews.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan pada bank sentral Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga. Trump mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan negara-negara tertentu yang mengalami defisit terhadap AS jika Fed tidak segera bertindak.

Trump menyampaikan tuntutannya pada 4 September melalui unggahan di media sosial menyusul laporan data tenaga kerja bulan Agustus yang lebih kuat dari perkiraan. Laporan tersebut memperkuat alasan bagi para pejabat Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya.

Straits Times mengutip Bloomberg melaporkan Trump mendesak Ketua Fed Kevin Warsh dan anggota dewan untuk mengambil langkah pemangkasan suku bunga tersebut.

"Turunkan suku bunga atau saya akan berhenti berdagang dengan negara-negara yang mengalami defisit dengan kita," tulis Trump dalam unggahannya. Suku bunga tinggi menempatkan AS pada posisi yang sangat tidak menguntungkan, dan saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Trump menilai AS seharusnya berada pada tingkat suku bunga 1 persen atau setengah persen, bukan 4 persen. Ia juga membela ancaman pemutusan perdagangan dengan menyebut Swiss, Meksiko, dan Uni Eropa sebagai contoh mitra yang diuntungkan dari hubungan dagang dengan AS.

Sikap tegas Trump tersebut melampaui pernyataan penasihat ekonomi utamanya di Gedung Putih, Kevin Hassett, yang menilai data tenaga kerja memperkuat alasan untuk mempertahankan suku bunga. Kami menghormati independensi Fed, tetapi saya pikir argumen untuk menahan suku bunga cukup kuat, kata Hassett pada saluran berita CNBC.

Tekanan spekulasi kenaikan suku bunga Fed dan ancaman kebijakan perdagangan AS ini berpotensi memberikan dampak bagi perekonomian Indonesia. Pergerakan suku bunga AS dan dinamika perdagangan global umumnya memicu gejolak pada nilai tukar rupiah serta aliran modal di pasar keuangan Indonesia.(*)