Sebagai gambaran, produksi cetakan sarung tangan yang dibuat MARK akan terus meningkat dikarenakan setiap perusahaan yang memproduksi sarung tangan akan terus memperbaharui cetakannya setiap 9 bulan sekali sehingga produksi Mark Dynamics akan terus berjalan.

 

Dijelaskan Ridawan, Cost of Goods Sold (COGS)  atau harga pokok penjualan (HPP) adalah hal yang sangat penting untuk  dilakukan. “Perhitungan ini mencakup semua biaya yang terlibat dalam penjualan produk. Mark Dynamics  menyatakan COGS untuk bahan baku sekitar 50% dan Manpower 30 hingga 35% dan energi sekitar 10 hingga 15%,’ ungkapnya


Hingga saat ini Mark Dynamic memiliki jumlah karyawan sebanyak 3000 orang dengan dominasi perempuan sekitar 80%. Alasan perseroan memilih perempuan adalah untuk menjaga kualitas cetakan yang harus melalui proses kualiti control berulang kali demi menjaga kepercayaan customer dan menyesuaikan dengan standar Internasional sehingga memiliki nilai value yang sesuai dengan standar internasional.

 

Adapun untuk utilisasi tanah, Mark Dynamic baru menggunakannya sekitar 45% sedangkan land bank yang dimiliki saat ini dimiliki sekitar 10 hektar yang bisa dimanfaatkan untuk membangun dua hingga tiga pabrik baru jika dibutuhkan dalam waktu mendatang. Ridwan  menambahkan , dengan rendahnya alokasi capex tahun ini perseroan bisa fokus untuk menuai hasil kinerjanya setelah ekspansi di tahun lalu dan bisa dimanfaatkan untuk keperluan Manpower. 

 

Mengenai kebutuhan gas untuk keperluan produksi di pabrik, Mark Dynamic memerlukan  gas sekitar  20.000 MMBTU (Million British Thermal Unit) per bulan untuk 3 pabrik. Bahkan.  jika dikalkulasi secara pertahun perseroan merogoh kocek sekitar Rp50 hingga Rp60 miliar  untuk biaya gas. Untuk pasokan kebutuhan gas itu, jika terjadi kendala yang menyebabkan terganggunya proses produksi, perseroan telah mengantisipasinya dengan menggunakan gas alam cair atau LNG. “Untuk menyiasati hal tersebut perseroan  bisa menggunakan LNG namun dengan biaya yang lebih mahal, “ tutup Ridwan.