EmitenNews.com - Langkah UNVR melepas merek SariWangi ke PT Savoria Kreasi Rasa (Grup Djarum) pada Januari 2026 adalah langkah strategis untuk memulihkan citra di tengah pasar domestik yang sensitif. Periode 2023-2025 menjadi saksi betapa rapuhnya raksasa multinasional ini terhadap sentimen geopolitik.

Isu boikot produk asing menjadi salah satu faktor utama yang menyeret harga saham UNVR terjun bebas hingga menyentuh lantai dasar di Rp1.015 pada Februari 2025. Dengan menyerahkan merek teh ikonik tersebut kembali ke tangan konglomerasi lokal, UNVR secara simbolis "berdamai" dengan pasar. Strategi ini diharapkan dapat meredakan resistensi konsumen dan membiarkan manajemen fokus membesarkan merek global inti seperti Pepsodent dan Lifebuoy tanpa beban sentimen masa lalu.

Realita Makro, Hantu Inflasi di Balik Pemulihan Harga 

Meskipun harga saham telah bangkit secara fenomenal dari Rp1.015 kembali ke kisaran Rp2.600-an, tantangan makro ekonomi di tahun 2026 tidak bisa dipandang sebelah mata. Data inflasi Desember 2025 yang menyentuh 2,92% akibat kenaikan harga pangan adalah sinyal bahaya bagi emiten barang konsumsi. 

Konsumen kelas menengah-bawah, yang merupakan tulang punggung penjualan UNVR, sedang memperketat ikat pinggang. Tanpa pendapatan dari segmen Es Krim yang bersifat impulsif, UNVR kini bertarung murni di pasar kebutuhan pokok yang sangat sensitif harga. Jika inflasi terus menggerus daya beli, risiko konsumen beralih (down-trading) ke produk kompetitor lokal yang lebih murah tetap mengintai, mengancam pemulihan volume penjualan yang baru saja terbentuk.

Trauma Volatilitas dan Harapan Stabilitas 

Grafik harga saham UNVR dalam tiga tahun terakhir adalah gambaran roller coaster emosional bagi investor. Kemerosotan harga hingga ke level Rp1.015 adalah bukti bahwa ketika fundamental terganggu (laba turun) dan sentimen memburuk (boikot), tidak ada level harga yang terlalu murah untuk ditembus. 

Kenaikan drastis saat ini menunjukkan pasar mulai percaya pada cerita pemulihan (turnaround story) manajemen dan potensi kas jumbo hasil divestasi. Namun, outlook 2026 adalah tentang pembuktian konsistensi. Pasar tidak akan mentolerir kesalahan langkah lagi. Jika dana hasil divestasi Rp8,5 triliun hanya habis untuk dividen tanpa memperkuat parit pertahanan bisnis (economic moat), saham ini bisa kembali dihukum pasar.

Di tengah inflasi yang menggerus dompet konsumen dan bayang-bayang trauma kejatuhan harga di masa lalu, satu pertanyaan strategis yang wajib dijawab direnungi yaitu apakah pelepasan merek SariWangi dan Wall's ini cukup untuk membeli kembali loyalitas konsumen Indonesia secara permanen, ataukah "New UNVR" yang lebih kecil ini justru akan semakin mudah digerus pangsa pasarnya oleh kompetitor lokal yang semakin agresif dan lincah?

Disclaimer: Informasi ini bersifat edukasi berbasis riset, bukan perintah beli atau jual. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor dengan mempertimbangkan risiko masing-masing (DYOR - Do Your Own Research).