Usai Diterpa MSCI, Pasar Menanti Jurus RAPBN 2027
:
0
Potret gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: EmitenNews/Aji
EmitenNews.com - Pelaku pasar akan mencermati substansi kebijakan ekonomi dalam penyampaian Nota Keuangan dan RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto, Jumat (14/8).
Senior Technical Analyst M. Nafan Aji Gusta mengatakan, sebelumnya pemerintah telah menyepakati asumsi pertumbuhan ekonomi 2027 di kisaran 5,8%-6,5%, dengan defisit anggaran 1,8%-2,4% terhadap PDB.
Menurutnya, pasar akan melihat sejauh mana target pertumbuhan tersebut didukung program konkret, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, hilirisasi, dan pembangunan infrastruktur.
"Semakin kredibel strategi pencapaiannya, semakin positif untuk persepsi terhadap pasar saham," ujar Nafan.
Selain target pertumbuhan, kualitas belanja pemerintah juga menjadi perhatian. Menurut Nafan, investor tidak hanya melihat besaran belanja dalam APBN, tetapi juga arah penggunaan anggaran dan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi.
Belanja produktif yang mampu menciptakan multiplier effect bagi sektor swasta dan emiten dinilai berpotensi memberikan sentimen positif bagi sejumlah sektor, seperti konstruksi, infrastruktur, semen, basic materials, transportasi, konsumer, perbankan, serta sektor yang berkaitan dengan hilirisasi dan energi.
Di sisi fiskal, target defisit 1,8%-2,4% terhadap PDB dinilai memberikan sinyal disiplin fiskal. Namun, pasar akan mencermati kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara stimulus ekonomi dan keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Hal tersebut dinilai penting karena investor asing masih sensitif terhadap persepsi risiko Indonesia, terlebih setelah tekanan terhadap IHSG akibat sentimen MSCI August 2026 Index Review.
Nafan menambahkan, kebijakan untuk menjaga konsumsi kelas menengah, menciptakan lapangan kerja, menjaga ketepatan sasaran bantuan sosial, serta meningkatkan disposable income masyarakat juga akan menjadi perhatian pasar.
Selain itu, kebijakan pemerintah terkait subsidi energi, ketahanan pangan, impor, swasembada, biofuel, dan transisi energi turut menjadi faktor yang dicermati karena dapat berdampak terhadap inflasi, daya beli, neraca perdagangan, hingga profitabilitas emiten.
Related News
Menyambut HUT ke-81 RI, IHSG Jumat Dibuka Terkoreksi 0,18 Persen
IHSG Tertekan 1,13 Persen, MNC Sekuritas Ungkap Dua Skenario
Di Tengah Sentimen MSCI, Kiwoom Masih Bidik IHSG ke 7.000
IHSG Lanjut Koreksi, Sentimen ini Pemicunya
Investor Tunggu Pidato Prabowo, IHSG Sideways
Hari Ini Presiden Pidato, IHSG Berpotensi Konsolidasi





