Wall Street Kian Menyala, IHSG Cenderung Koreksi
Suasana penutupan perdagangan IHSG edisi 2025 di Main Hall Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin berhasil bangkit dari level terendah, dan ditutup di zona hijau. Itu seiring sikap investor mengabaikan langkah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) untuk memulai penyelidikan terhadap Gubernur The Fed Jerome Powel.
Penguatan indeks itu, terutama ditopang kenaikan saham Wallmart 3 persen, dan beberapa saham teknologi. Sementara itu, saham emiten perbankan besar terkoreksi. Misalnya, Citigroup anjlok 2,98 persen, JP Morgan 1,43 persen, Bank of America tekor 1,18 persen, dan Capital One drop 6,42 persen.
Kejatuhan saham perbankan itu, seiring langkah presiden AS Donald Trump yang membatasi bunga kartu kredit sebesar 10 persen dalam setahun. Lompatan lanjutan indeks bursa Wall Street, dan harga beberapa komoditas seperti minyak mentah, rude palm oil (CPO), nikel, timah, emas, dan tembaga diprediksi menjadi sentimen positif pasar.
Sementara itu, mulai ada antisipasi terhadap hasil konsultasi MSCI, dan kekhawatiran potensi defisit APBN di atas 3 persen berpeluang menjadi sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, indeks diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 8.765-8.645, dan resistane 9.005-9.125.
Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan investor mengemas sejumlah saham bberikut. Yaitu, Medco (MEDC), Telkom (TLKM), Merdeka Gold (MDKA), Bumi Resources Mineral (BRMS), Aneka Tambang (ANTM), dan AKR Corporindo (AKRA). (*)
Related News
99 Persen Pengaduan Konsumen ke Kemendag Terkait Transaksi Online
Pemerintah Bidik Devisa USD22-24 Miliar Dari Kunjungan Wisman 2026
Transaksi di Tiga Even Belanja Libur Nataru Capai Rp122,28 Triliun
Catat Hasil Signifikan, Paket Ekonomi 2025 Lanjut Di 2026
Sideways, IHSG Jejak Level 8.970
IHSG Tertekan, Angkut Saham ASII, UNVR, dan HRUM





