Sideways, IHSG Jejak Level 8.970
IHSG sempat menjejak rekor tertinggi intraday pada perdagangan kemarin. FOTO - Rizki/EmitenNews
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,58 persen menjadi 8.884. Seperti prediksi, indeks belum mampu bertahan di atas level 9.000. Kondisi tersebut memicu terjadinya aksi profit taking, terutama terhadap saham-saham konglomerasi yang telah reli, dan menjadi kontributor penguatan indeks.
Pelemahan saham-saham tersebut disinyalir juga mengantisipasi pengumuman MSCI mengenai kebijakan baru perhitungan free float yang akan diumumkan akhir bulan ini. Profit taking itu, telah memicu terjadinya panic selling sehingga sempat membuat indeks tertekan hingga level 8.715, sebelum akhirnya membaik namun masih ditutup di area negatif.
Indeks ditutup di bawah level MA5. Indikator MACD, dan Stochastic RSI mengindikasikan potensi berlanjutnya koreksi. Itu didukung oleh volume jual. Sehingga indeks diperkirakan bergerak sideways cenderung melemah dan berpeluang menguji support 8.725-8.800.
Data penjualan ritel Indonesia November 2025 meningkat 6,3 persen YoY dari Oktober 2025 4,3 persen YoY. Namun, Rupiah berlanjut melemah menjadi Rp16.855 per dolar Amerika Serikat (USD). Kekhawatiran prospek ekonomi domestik, dan eskalasi geopolitik global menjadi faktor negatif.
Kecemasan defisit APBN 2026 dapat melampaui batas 3 persen dari PDB, menambah tekanan. Berdasar data itu, Phintrao Sekuritas menyarankan para invesstor untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Telkom Indonesia (TLKM), Kalbe Farma (KLBF), Astra (ASII), Bank BTPN Syariah (BTPS), dan Merdeka (MBMA). (*)
Related News
Transaksi di Tiga Even Belanja Libur Nataru Capai Rp122,28 Triliun
Catat Hasil Signifikan, Paket Ekonomi 2025 Lanjut Di 2026
Wall Street Kian Menyala, IHSG Cenderung Koreksi
IHSG Tertekan, Angkut Saham ASII, UNVR, dan HRUM
Flash Crash IHSG: Sempat Anjlok 2,3 Persen, Saham Blue Chip Ini Anteng
IHSG (12/1) Parkir di 8.947 Saat Makan Siang, Saham Emas Kian Ceria





