EmitenNews.com -PT Mandiri Sekuritas (CC) memproyeksikan angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sekitar 5,1% di 2024 didorong oleh faktor-faktor, seperti konsumsi rumah tangga dan inflasi. Pemilihan Umum yang akan diselenggarakan pada 14 Februari 2024 akan mendorong konsumsi, meski investasi berpotensi sedikit melambat karena menunggu hasil pemilu dan arah kebijakan di masa depan.

Chief Economist Mandiri Sekuritas, Rangga Cipta mengatakan, tetap optimistis akan pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia di tahun Pemilu 2024. Ia melihat Pemilu akan berdampak positif bagi ekonomi nasional terutama kenaikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Namun demikian, beberapa hal seperti sikap menunggu hasil Pemilu dari para investor dan volatilitas ekonomi global perlu diwaspadai.

Mandiri Sekuritas memproyeksikan inflasi di 2024 tetap stabil di sekitar 3,2% dan suku bunga Bank Indonesia (BI) turun sebesar 75bp ke 5,25%, serta nilai tukar Rupiah diperkirakan menguat ke level Rp14.900 secara rata-rata, namun masih dipengaruhi volatilitas ekonomi global di kuartal I-2024.

Untuk pasar saham, Mandiri Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mencapai 7,640 di 2024. Sentral bank di berbagai negara telah menaikkan tingkat suku bunga sebesar 250-525 bps dalam sekitar 2 tahun belakangan yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Namun demikian, Indonesia yang termasuk dalam ASEAN-5 diproyeksikan masih tetap tumbuh secara resilien di tengah volatilitas globa.

Adrian Joezer, Head of Equity Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas mengatakan, di tengah pelemahan pertumbuhan laba bersih perusahaan oleh karena kebijakan moneter yang ketat, potensi penurunan suku bunga akan menopang perbaikan pertumbuhan di Semester 2 2024. Dengan kondisi fundamental ekonomi, perbankan, dan perusahaan yang lebih baik dibandingkan dengan periode-periode tightening sebelumnya, ia optimistis bahwa tightening exit Indonesia di tahun 2024-2025 akan lebih baik dan belum sepenuhnya terefleksikan di tingkat valuasi pasar saham saat ini di level 12-13x forward PE.

"Tingkat leverage perusahaan yang rendah dan ROIC-WACD spread yang berada di level tertinggi sejak 8-9 tahun terakhir pun akan membantu mempercepat pemulihan pertumbuhan setelah kebijakan tightening berakhir dan juga membantu menopang imbal hasil dividen yang tinggi ke depannya,“ katanya.

Untuk pasar obligasi di 2024, Handy Yunianto, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas mengatakan, di tengah gejolak global yang tinggi tahun 2023, dari tensi geopolitik yang meningkat, tingkat suku bunga global yang tinggi, pasar obligasi Indonesia terbukti risilien dan masih memberikan return +8.7%. Ia memperkirakan, kinerja positif ini masih akan berlanjut di tahun 2024-2025. Beberapa katalis positif antara lain: pertama, tingkat suku bunga diperkirakan akan turun, kedua, Pemerintah masih memiliki fleksibilitas pembiayaan fiskal yang longgar, seiring dengan masih relatif tinggi SAL (Saldo Anggaran Lebih).

"Ketiga Secara valuasi, yield obligasi masih menarik. Dengan proyeksi yield 10 tahun SBN berpotensi turun ke 5,9% atau kisaran di 5,8-6,0% kami perkirakan return investasi di pasar obligasi tahun 2024 akan memberikan imbal hasil sekitar +9,8%,” katanya.