Yang Satu Terperosok Bearish, Yang Satu Melejit, Dua Saham Digembok
Ilustrasi bullish dan bearish.
EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menghentikan sementara perdagangan dua saham yang tengah menjadi sorotan pasar, yakni PT Hillcon Tbk (HILL) dan PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY).
Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Yulianto Aji Sadono, menjelaskan penghentian sementara perdagangan (suspensi) dilakukan dalam rangka cooling down sekaligus perlindungan investor.
“Keputusan tersebut mulai efektif diberlakukan pada Jumat, 20 Februari 2026,” ujar Yulianto dalam keterangannya.
HILL Disuspensi Sehari, Usai 4x ARB Berjilid-Jilid
Dalam empat hari terakhir tercatat pada Kamis, (12/2) saham Hill mengalami anjlok hingga menyentuh Auto Rejection Bawah atau ARB sedalam 14,68 persen di Rp93 lalu pada keesokan harinya Jumat (13/2) tercatat saham ini kembali mencatatkan ARB terkoreksi hingga 13,98 persen di Rp80. Lalu pada Rabu (18/2) tercatat sahamnya kembali ARB 15 persen turun di Rp68, dan hingga terakhir sebelum disuspensi pada Kamis (19/2) saham HILL melorot kembali sedalam 14,71 persen di Rp58.
Untuk saham HILL, BEI menjatuhkan suspensi pertama selama satu hari perdagangan. Artinya, jika tidak ada perkembangan lanjutan, saham ini berpotensi kembali diperdagangkan normal pada sesi berikutnya.
Secara tren, HILL memang sedang terperosok dalam tekanan bearish yang tajam. Dalam sebulan terakhir, sahamnya merosot 66,47 persen. Secara tahunan (year-on-year), koreksinya bahkan mencapai 86,57 persen, dari posisi Rp434 menjadi hanya Rp58 per saham.
Penurunan drastis ini tak lepas dari aksi divestasi pengendalinya, Hillcon Equity Management (HEM). Kepemilikan HEM terus menyusut, dari 61,67 persen pada akhir Januari 2025 menjadi tinggal 41,41 persen. Aksi lepas saham yang masif ini mempertebal tekanan jual di pasar.
LUCY Empat Kali Digembok, Menuju FCA?
Berbeda dengan HILL, saham LUCY justru datang dari sisi ekstrem sebaliknya, yakni lonjakan harga yang tak biasa.
BEI telah menjatuhkan suspensi empat kali berturut-turut terhadap LUCY. Surat suspensi pertama dilayangkan pada 2 Desember 2025, kedua pada 4 Desember 2025, ketiga pada 8 Januari 2026, dan keempat pada 19 Februari 2026.
Secara tren, pergerakan LUCY terbilang liar. Dalam sebulan, saham ini melesat 174,25 persen. Secara tahunan (year on year), kenaikannya mencapai 1.596,30 persen yakni, LUCY melambung dari Rp135 menjadi Rp2.290 per saham.
Lonjakan ribuan persen dalam setahun membuat saham ini masuk radar ketat pengawasan bursa. Atas suspensi yang mengakibatkan saham dikunci lebih dari sehari, membuat emiten LUCY akan bertransisi ke papan pemantauan khusus atau Full Call Auction (FCA), Kategori 10 atas sanksi yang diberikan kepada emiten tersuspensi lebih dari sehari perdagangan.
Suspensi atas dua saham dengan karakter ekstrem berbeda ini, yang satu terjerembap, yang lain justru meroket menjadi pengingat keras bahwa volatilitas tinggi selalu datang dengan risiko tinggi. BEI menjelaskan, langkah ini diambil demi menjaga perdagangan tetap teratur, wajar, dan efisien.(*)
Related News
Progres 50 Persen, TPIA Kebut Pabrik Kimia Raksasa Cilegon
Likuiditas Cekak, Surat Utang WIKA Sandang idD
Gandeng BCA, UVCR Sodorkan Integrasi Voucher Digital
Kurangi Muatan, CGS Sekuritas Lego 133,96 Juta Saham HILL
Kerek Peringkat PPRO idB, Ini Alasan Pefindo
Susut 15 Persen, Laba ADMF 2025 Tersisa Rp1,54 Triliun





