Yen Anjlok Terendah 40 Tahun, AS Desak BOJ Naikkan Suku Bunga
:
0
Kantor Bank of Japan (BOJ). Foto: IG Bank
EmitenNews.com - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) mendesak Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk terus menaikkan suku bunga acuan guna menahan laju inflasi dan menstabilkan nilai tukar mata uangnya. Imbauan tersebut disampaikan dalam laporan mata uang setengah tahunan yang dirilis Departemen Keuangan AS pada Kamis.
AS menilai mata uang yen Jepang masih terus berada dalam tren lemah meskipun perbedaan suku bunga antara AS dan Jepang telah mengalami penyempitan. Selain itu, otoritas AS menegaskan bahwa volatilitas mata uang yang berlebihan merupakan kondisi yang tidak diinginkan bagi stabilitas pasar.
"Normalisasi kebijakan moneter akan membantu menstabilkan ekspektasi inflasi dan mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan," tulis Departemen Keuangan AS dalam laporan resminya, seperti dikutip dari data Trading Economics.
Departemen Keuangan AS turut mencatat bahwa kendati upah nominal di Jepang telah mengalami peningkatan signifikan, laju inflasi terus mengikis daya beli rumah tangga masyarakat setempat. Kondisi ini memperkuat alasan mendesaknya langkah normalisasi kebijakan moneter lebih lanjut oleh otoritas keuangan Jepang.
Pernyataan dari pihak AS tersebut keluar bersamaan dengan merosotnya nilai tukar yen ke level terendah baru dalam 40 tahun terakhir terhadap dolar AS (USD) pada hari Kamis. Kondisi ini meningkatkan ekspektasi para pelaku pasar bahwa otoritas Jepang berpotensi segera melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing.
Sebelumnya, pemerintah Jepang telah berulang kali memberikan peringatan keras bahwa mereka siap mengambil tindakan tegas terhadap pergerakan mata uang yang dinilai berlebihan.
Isu pelemahan mata uang yen dan potensi pengetatan moneter di Jepang ini menjadi perhatian bagi para pelaku pasar dan pelaku usaha di Indonesia. Pergerakan nilai tukar serta suku bunga salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia tersebut berpotensi memengaruhi dinamika aliran modal, aktivitas perdagangan bilateral, hingga stabilitas pasar valuta asing kawasan regional termasuk rupiah.(*)
Related News
Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Tekan Harga Emas ke USD 4.050
Inflasi Jepang Rekor Tertinggi 6 Bulan Usai Subsidi Energi Dipangkas
Harga Minyak Brent Tembus USD 100, Bursa Saham AS Ikut Anjlok
AS Kenakan Indonesia Tarif Tambahan 10%, Masuk Daftar 60 Negara
AS Marah Uni Eropa Denda Google Rp18 Triliun
Timur Tengah Mencekam, Harga Minyak Lewati 100 Dolar per Barel





