EmitenNews.com - Mata uang yen Jepang bergerak di kisaran 158,8 per dolar AS pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Penguatan ini melanjutkan lonjakan tajam hingga 1,2 persen ke level 158,21 per dolar AS pada sesi perdagangan New York, Rabu.

Lompatan nilai tukar ini dipicu spekulasi pasar terkait langkah otoritas moneter Jepang yang diduga melakukan pemeriksaan suku bunga (rate check). Prosedur tersebut dilakukan pejabat dengan menghubungi pihak bank untuk memeriksa nilai tukar sekaligus memberi sinyal kemungkinan intervensi.

Berdasarkan laporan Trading Economics, pergerakan ini membuat pelaku pasar global mewaspadai tanda-tanda intervensi lanjutan dari Tokyo. Yen sebelumnya sempat terperosok ke level terendah dalam 40 tahun pada akhir Juli akibat pelebaran selisih suku bunga, kekhawatiran fiskal, serta tingginya biaya impor energi, sebelum akhirnya Tokyo dan Washington melakukan operasi pemulihan pasar bersama.

Selain dugaan intervensi, sinyal pengetatan moneter diperkuat oleh internal bank sentral Jepang, Bank of Japan (BOJ). Anggota Dewan BOJ Hajime Takata mengemukakan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam skala besar atau beruntun guna menahan tekanan inflasi.

Langkah senada ditegaskan oleh Gubernur BOJ Kazuo Ueda yang menyatakan bahwa para pembuat kebijakan perlu lebih memperhatikan risiko kenaikan harga dalam merumuskan kebijakan moneter. Ueda memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan dieksekusi akhir bulan ini.

Dinamika penguatan yen dan sinyal hawkish BOJ ini menjadi perhatian pasar keuangan Indonesia. Pergerakan yen terhadap dolar AS berpotensi memengaruhi stabilitas rupiah, alokasi investasi portofolio asing di Asia Tenggara, serta beban pembayaran utang berdenominasi yen bagi pemerintah dan korporasi domestik.(*)