Selain batu bara, komoditas lain yang dinilai memiliki prospek positif adalah nikel yang erat dipakai sebagai konsumsi bahan industri teknologi, serta emas yang kerap menjadi aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

Menurut Hans, tren kenaikan harga emas saat ini juga dipicu oleh pergeseran preferensi negara-negara dalam menyimpan cadangan devisa.

“Emas ini masih akan naik terus dalam perjalanan panjang karena dunia tidak percaya dengan dolar AS dan mulai mengonversi cadangan devisanya ke emas,” ujar Hans.

Meski demikian, Hans menilai Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menarik arus dana investor global karena tingkat free float saham emiten yang relatif kecil.

“Ini yang menyebabkan investor global itu melihat Indonesia. Tapi, kok, free float-nya kecil, kami mau beli sulit. Nah, dia juga pengen kalau kita terbuka besar (free floatnya), dia mau masuk ke sini,” tutur Hans.

Ia menambahkan bahwa dalam situasi perang, sejumlah negara penghasil komoditas seperti Indonesia berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan harga bahan mentah di pasar global.

“Ketika kondisi seperti ini, perang kita bisa mendapatkan windfall yang bagus. Investor akan membeli saham yang bisnisnya diuntungkan dari kondisi tersebut,” pungkas Hans.