Antisipasi Godzilla El Nino, Ini Langkah Penting Pemprov Jateng-Jatim
Ilustrasi Petani membajak sawah yang rusak akibat cuaca buruk. Distanak Provinsi Jawa Tengah mencatat, sawah baku seluas 17.114 hektare beralih fungsi pada 2025 sehingga potensi produksi beras berkurang di tengah target swasembada pangan. Dok. Tribunnews.
EmitenNews.com - Mengantisipasi datangnya fenomena Godzilla El Nino, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi telah menyiapkan sejumlah langkah pertahanan. Pemprov Jateng memiliki Jamkrida sehingga lahan pertanian yang terdampak serangan cuaca ekstrem itu, dapat ditanggung melalui skema tersebut. Godzilla merujuk pada besarnya kekuatan cuaca ekstra, yang digambarkan sekuat gorilla.
"Jadi, sawah kita yang kena bencana, sawah kita kena puso (gagal panen), di-cover oleh Jamkrida, terkait dengan biaya sehingga masyarakat petani kita bisa, bisa terangkat," ujar Gubernur Jateng Ahmad Luthfi kepada pers, di Kantor TribunSolo, Selasa (7/4/2026).
Analis Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Zauyik, mengatakan bahwa kondisi iklim di Jawa Tengah pada April hingga Juni 2026 terpantau masih netral. Tidak ada faktor penambahan atau pengurangan curah hujan di Jawa Tengah. Prediksi anomali iklim El Nino dengan intensitas lemah terjadi pada semester kedua tahun 2026.
Sebagian wilayah Jawa Tengah sudah memasuki musim kemarau, terutama di wilayah bagian timur laut, pada April 2026. Meski begitu, Stasiun Klimatologi Jawa Tengah memperkirakan musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibandingkan tahun 2025. "Durasi musim kemarau tahun ini di Jawa tengah rata-rata 5-7 bulan," urai Zauyik. Stasiun Klimatologi Jawa Tengah menyebutkan, fenomena ENSO menunjukkan kondisi netral dengan indeks -0.28. ENSO netral diprediksi akan bertahan pada semester I tahun 2026. Namun, terdapat peluang El Niño mulai awal semester II tahun 2026. Sementara itu, IOD juga menunjukkan kondisi netral dan diperkirakan berlanjut hingga pertengahan tahun 2026. Anomali suhu permukaan laut perairan Indonesia periode Maret hingga Agustus 2026 diprediksi didominasi kondisi normal hingga anomali positif (lebih hangat) dengan kisaran +0.5 hingga +2.0 derajat Celsius.
Kemudian, Monsun Australia diperkirakan mulai dominan pada Mei 2026. Sedangkan, awal musim kemarau tahun 2026 di Jawa Tengah umumnya diprediksi terjadi pada Mei 2026. Awal musim kemarau paling awal terjadi pada April dasarian I (tanggal 1-10) yang meliputi Kabupaten Rembang dan Kepulauan Karimunjawa; sebagian besar Kabupaten Pati dan Jepara; serta sebagian kecil wilayah Kabupaten Demak dan Blora.
Sedangkan awal musim kemarau paling akhir terjadi pada Juni dasarian II (tanggal 11-20) di sebagian wilayah Kabupaten Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara; serta sebagian kecil Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, dan Kebumen.
Dibandingkan dengan normalnya umumnya diprediksi maju hingga sama dengan normalnya. Untuk sifat hujannya umumnya bawah normal. Sedangkan untuk puncak musim umumnya terjadi di bulan Agustus 2026.
Sebanyak 815 desa di kabupaten/kota terancam mengalami kekeringan saat musim kemarau ekstrem atau fenomena El Nino
Sementara itu, di Jawa Timur, sebanyak 815 desa di kabupaten/kota terancam mengalami kekeringan saat musim kemarau ekstrem atau fenomena El Nino. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat, ratusan desa tersebut tersebar di 222 kecamatan di 26 kabupaten.
“Fenomena El Nino tahun ini diprediksi lebih kuat dan ekstrem. Suhunya lebih panas dan periode kemaraunya panjang, dampaknya potensi risiko kekeringan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto, Selasa (31/3/2026).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau berlangsung mulai April hingga September 2026, dengan puncak pada Mei hingga Agustus.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang menyebabkan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia. BPBD Jatim menyebut desa-desa yang berpotensi terdampak umumnya memiliki kerentanan tinggi terhadap krisis air, terutama yang mengandalkan tadahan air hujan dan memiliki keterbatasan infrastruktur air bersih.
Kondisi ini juga berpotensi mengganggu sektor pertanian yang membutuhkan suplai air dalam jumlah cukup. Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, BPBD Jatim akan berkoordinasi lintas sektor dan menggelar rapat bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. ***
Related News
Akui Ada Kelemahan Coretax, DJP Tetap Imbau Jangan Pakai Joki Pajak
Kantongi Restu Presiden, Purbaya Bakal Jadikan PNM Bank UMKM
Durian Runtuh Eksportir, DPR Dukung Pemerintah Terapkan Windfall Tax
Terimbas Ancaman Trump, Rupiah Pagi Ini Melemah 51 Poin Terhadap Dolar
Purbaya Sebut Dua Hambatan Yang Pengaruhi Iklim Investasi
Asosiasi Optimis Permintaan Perhiasan Emas Bakal Kembali Membaik





