Indonesia Prioritaskan Pembiayaan Utang Domestik, 70% dalam Rupiah
:
0
Gedung Kementerian Keuangan RI.(Foto: Kemenkeu)
EmitenNews.com - Indonesia terus memperdalam pasar obligasi dengan memperhatikan likuiditas, transparansi, dan tata kelola yang baik. Strategi pembiayaan 2026 difokuskan pada pendalaman pasar domestik, diversifikasi sumber pendanaan, serta pengelolaan utang yang prudent. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung dalam Indonesia Credit Spotlight 2026 di Jakarta pada Rabu (20/05).
“Strategi pembiayaan 2026 kami memiliki tiga prinsip. Pertama, kami memprioritaskan utang domestik hingga 70 persen dalam rupiah. Kedua, campuran mata uang yang cermat 25 hingga 30% dalam mata uang asing. Ketiga, pengelolaan active liability,” ungkap Wamenkeu Juda.
Wamenkeu menjabarkan, minat investor terhadap surat berharga negara Indonesia tetap tinggi. Surat Utang Negara (SUN) tercatat mengalami oversubscription 2,4 kali, sementara Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencapai 2,8 kali. Pada April, pasar SBN domestik mencatat arus masuk bersih Rp13,4 triliun.
Di pasar internasional, Indonesia mencatat sejumlah capaian penting sepanjang tahun 2026. Mulai dari penerbitan sukuk global US$2 miliar yang mengalami kelebihan permintaan 1,97 kali lipat, hingga penerbitan Samurai Bond senilai ¥172 miliar. Pemerintah juga tengah menyiapkan penerbitan obligasi Panda dan Kangaroo guna memperluas basis investor, mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, serta mendukung stabilitas rupiah.
Wamenkeu menekankan, komitmen memperkuat strategi pembiayaan di tengah gejolak ekonomi global dilaksanakan melalui koordinasi lintas lembaga, pengelolaan fiskal yang disiplin, serta transparansi dalam kebijakan pembiayaan negara.
“Kami menerapkan active liability, pengelolaan kas yang cermat, dan pengungkapan tepat waktu. Kami menyambut baik pengawasan dari S&P dan lembaga lainnya. Kami juga berkoordinasi erat dengan Bank Indonesia dan OJK di bawah Forum KSSK. Jadi, kebijakan moneter, prudensial, dan kebijakan pasar modal semuanya berjalan seiring,” pungkas Wamenkeu Juda. (*)
Related News
Jika Bisa Bangun PLTS 100 Giga Watt dalam 2 Tahun Presiden Berikan Ini
Kinerja Solid Laba Bank BSN Rp721 Miliar, Naik 36,72 Persen
Efek Emiten Telko dan MIgas dari Kesepakatan AI & Satelit CAEXPO 2026
Tambah Kapasitas Proyek Listrik Hijau, RI Butuh Investasi Rp1.306T
BI Obral Insentif Lindung Nilai Demi Jaga Stabilitas Rupiah
Destry Tak Berani Naikkan BI-Rate di RDG Pertama Sebagai Gubernur BI





